unique visitors counter
⌂ Beranda Lifestyle Profesor Berklee Buka Suara soal Kehilangan Ibu karena Bunuh Diri

Profesor Berklee Buka Suara soal Kehilangan Ibu karena Bunuh Diri

Profesor Berklee Buka Suara soal Kehilangan Ibu karena Bunuh Diri
Ilustrasi: Profesor Berklee Buka Suara soal Kehilangan Ibu karena Bunuh Diri
A A Ukuran Teks16px

Dunia jazz pun menjadi hambatan lain. Sebagai musisi Asia, ia kerap menghadapi stereotip bahwa orang Asia tidak bisa "swing".

Dengan cara berbeda, ibu dan anak sama-sama mengalami apa artinya hidup tanpa kata-kata.

>>> Dari Bariton ke Tenor: Kisah Sukses Baek Seok-jong di Panggung Opera Dunia

'The Prison of Language'

Apa yang dimulai sebagai upaya memahami kisah ibunya berubah menjadi bentuk duka baru, sebuah ritual terakhir untuk menghormatinya.

Cerita yang tak pernah bisa ia tanyakan langsung kepada ibunya itu ia tuangkan dalam musik. Lahirlah "The Prison of Language".

Karya yang disebut Seol sebagai "drama musikal" ini merupakan bagian otobiografi, bagian memorial kolektif.

in2

Karya tersebut mengangkat kehilangan ibunya sambil menjalin 150 kata kunci tematik dari wawancara dengan 14 penyintas kehilangan akibat bunuh diri di Korea.

Satu sentimen yang paling membekas: "Semua orang mengatakan bahwa orang itu masih ada di suatu tempat — tidak sepenuhnya pergi, tetapi di antara hidup dan mati.

Saya tahu persis perasaan itu. Seolah ibu saya adalah seseorang yang sudah lama tidak saya hubungi," ujarnya.

Perasaan liminal itu menjadi fondasi emosional pertunjukan. Mengacu pada ritual shamanik Korea "gut", Seol menggabungkan bebop jazz dengan "pansori" (penceritaan musik tradisional).

"Ini bukan fusi demi fusi. Ini tentang menyatukan dua tradisi pada level spiritual," katanya.

Bagi Seol, karya ini juga merupakan respons terhadap cara bunuh diri dibicarakan.

Terlalu sering, argumennya, percakapan dimulai dan berakhir dengan diagnosis atau patologi, meninggalkan sedikit ruang bagi kisah hidup di balik penderitaan seseorang.

Rasa malu dan diam, pada gilirannya, membuat penyintas enggan berbicara terbuka tentang kehilangan mereka. Ia percaya seni dapat menciptakan ruang terbuka yang berbeda.

Alih-alih membuat trauma ulang, ia ingin pertunjukan itu menawarkan ruang untuk refleksi, koneksi, dan bahkan momen kegembiraan.

Pada intinya, Seol berharap produksi ini meninggalkan pesan sederhana: "Hidup memiliki nilai. Nilai itu berbeda bagi setiap orang, dan menemukannya butuh waktu.

Tapi Anda harus tetap hidup untuk menemukannya."

>>> Busan Gelar Konferensi Warisan Budaya Internasional tentang Arkeologi dan Pencegahan Bencana

Produksi skala penuh "The Prison of Language" dijadwalkan tayang perdana tahun depan di Seoul sebelum dibawa ke Boston.

D
Tim Redaksi
Penulis: Dwi Andini
📰 Update Terbaru