unique visitors counter
⌂ Beranda Lifestyle Buddha Jadi Bias Baru: Budaya Fan K-Pop Bertemu Agama di Mata Gen Z

Buddha Jadi Bias Baru: Budaya Fan K-Pop Bertemu Agama di Mata Gen Z

Buddha Jadi Bias Baru: Budaya Fan K-Pop Bertemu Agama di Mata Gen Z
Buddha Jadi Bias Baru: Budaya Fan K-Pop Bertemu Agama di Mata Gen Z
A A Ukuran Teks16px

Seniman berusia 28 tahun, Gye So-young, yang sebelumnya mengagumi karakter anime, G-Dragon, Jennie BLACKPINK, dan bintang baseball Shohei Ohtani, kini mengaku Buddha sebagai bias utamanya.

Gye, yang juga mengelola kanal YouTube "Biguni Yeonseupsaeng" (calon biksu wanita), menuangkan perjalanan spiritualnya dalam buku esai debut berjudul "The Buddha Is My Bias: An Otaku's At-Home Exploration of Buddhism".

>>> Cendekiawan Belanda Selesaikan Terjemahan Lengkap Samguk Yusa

Buku yang terbit pada 30 Juli melalui Bulkwang Publishing ini menyajikan ajaran Buddha dengan pendekatan ceria khas Gen Z.

Ajaran Buddha dalam Kemasan Budaya Pop

Gye memetakan konsep ketidakkekalan dalam Buddhisme melalui lagu G-Dragon "Crooked" yang berbicara tentang tidak ada yang abadi.

Ia juga mengaitkan hukum karma dengan pernyataan Ohtani yang mengibaratkan memungut sampah orang lain sebagai mengumpulkan keberuntungan yang ditinggalkan.

Lewat kacamata penggemar berat Buddha, ia menawarkan perspektif baru pada anime populer seperti "Demon Slayer", "One Piece", dan "Naruto", serta "Captain America" dari Marvel.

Di balik bingkai budaya pop, ada kisah pribadi yang serius.

Saat kuliah, Gye sering menerima komentar keras dari orang dewasa yang meremehkan mimpinya menjadi seniman.

Mereka mengatakan ia akan gagal dan mengejeknya karena membayar uang kuliah sekitar 4,6 juta won (Rp 52 juta) per semester untuk lukisan yang tak akan laku.

Kritik itu membuatnya marah, dan ia mencoba menonjol dengan menjadi hipster kontrarian.

>>> Museum Sejarah Seoul Buka Program Musim Panas Gratis untuk Anak

Mendalami Buddhisme dengan antusiasme yang sama seperti saat mengikuti fandom budaya pop membantunya melewati kepahitan itu.

Keyakinan barunya tidak mengubah cara orang lain memandangnya, tetapi mengubah cara ia merespons penilaian mereka.

Saat kehilangan pekerjaan, ia menenangkan diri dengan merenungkan ketidakkekalan.

Meski menyebut dirinya "calon selamanya" tanpa rencana menjadi biksu, ia berharap kisahnya bisa menginspirasi orang lain.

"Saya berharap buku ini memperkaya hidup lebih banyak anak muda di generasi saya," kata Gye dalam acara pers, Rabu.

Ia menegaskan bahwa percaya pada Buddhisme tidak berarti hidup yang lebih baik akan otomatis terjadi.

Realitas doktrinal bahwa "hidup dipenuhi penderitaan" tetap ada, tetapi ajaran itu mengubah cara ia menerima penderitaan.

>>> Pusat Kebudayaan Korea di Swedia Buka Kafe Buku dengan Nuansa Fika

"Buddhisme tidak membuat saya menjadi orang yang lebih baik, tetapi membantu saya terus hidup sebagai diri saya sekarang," ujarnya.

R
Tim Redaksi
Penulis: Retno Widyawati
📰 Update Terbaru
stikibot