Sutradara Na Hong-jin kembali ke kursi sutradara setelah satu dekade dengan film fiksi ilmiah thriller berjudul "Hope".
Film ini tayang perdana di Festival Film Cannes pada Mei lalu, kemudian menjalani penyuntingan dan peningkatan visual hingga durasinya dipangkas empat menit menjadi 156 menit.
>>> Celine Evangelista Antar Putri Sulung Mondok, Akui Belajar Ikhlas
Versi teatrikal yang lebih ketat ini menghadirkan pengalaman sinematik tanpa henti dan beroktan tinggi.
Latar dan Awal Cerita
Cerita berlatar tahun 1980-an di Hopo Port, sebuah kota pesisir kecil fiksi dekat Zona Demiliterisasi Korea.
Film dimulai dengan penemuan mengerikan: seekor sapi tercacah di jalan pedesaan.
Kepala pos terpencil Bum-seok (Hwang Jung-min) merespons laporan tersebut. Warga desa mengira ada harimau liar dan bersenjata untuk mencari ancaman.
Pemuda tangguh seperti Seong-gi (Zo In-sung) langsung menuju pegunungan, sementara Bum-seok terlibat pertemuan berbahaya dengan makhluk itu.
Ia tetap berkomunikasi dengan petugas polisi setempat Seong-ae (Jung Ho-yeon). Namun mereka segera menyadari bahwa entitas misterius itu jauh di luar imajinasi mereka.
Ketegangan dan Aksi
Bagian terbaik dari "Hope" adalah kemampuannya membuat penonton benar-benar merasa berada di dalam dunia cerita.
Paruh pertama film sangat mendebarkan saat warga desa berusaha mencari tahu makhluk misterius itu.
Na dengan cerdik membangun ketegangan dengan menyembunyikan makhluk tersebut selama hampir 50 menit pertama.
Ketakutan yang perlahan tumbuh, dipadukan dengan efek suara realistis dan kepanikan warga, benar-benar menarik penonton ke dalam layar.
Setelah misteri terungkap, film berubah menjadi tontonan aksi berkecepatan tinggi dengan taruhan tinggi.
Ketegangan berubah menjadi adrenalin murni karena kecepatan makhluk yang mengerikan, mampu menyamai mobil balap.
Seperti karya sebelumnya, adegan aksi Na Hong-jin berani, mentah, dan brutal.

