Samuel Jamier, direktur eksekutif New York Asian Film Festival (NYAFF), menyatakan bahwa krisis yang melanda industri perfilman Korea hampir tidak terlihat dari Amerika Serikat.
"Dari New York, dan AS secara umum, kekeringan itu hampir tidak terlihat," kata Jamier dalam wawancara email dengan The Korea Times.
>>> KPop Demon Hunters Sing-Along di Jakarta: Bernyanyi Gratis dan Misi Interaktif
Menurutnya, film, televisi, dan K-pop melebur menjadi satu kategori kemenangan yaitu konten Korea, sehingga popularitasnya menutupi masalah industri yang menghasilkannya.
Festival ke-25 dengan Sorotan Korea
Pernyataan ini muncul saat NYAFF menggelar edisi ke-25 yang berlangsung dari Jumat (waktu setempat) hingga 26 Juli di New York.
Festival ini menampilkan sorotan besar perfilman Korea yang didukung oleh Korean Cultural Center New York dan Film at Lincoln Center.
Sebanyak 23 film Korea diputar di lima venue, dengan film pembuka "Colony" karya Yeon Sang-ho yang dibintangi Jun Ji-hyun.
Jamier menegaskan bahwa film komersial bukanlah kata kotor di festival ini, dan "Colony" sangat cocok karena mengutamakan cerita yang mudah diakses.
Ia juga menyebut film sejarah "The King's Warden" yang menjadi film Korea terlaris sepanjang masa berdasarkan pendapatan, serta thriller "Hope" karya Na Hong-jin sebagai pilihan Centerpiece.
Duka Universal dan Sejarah Lokal
Sorotan tahun ini juga menampilkan dua film tentang trauma sejarah Peristiwa 3 April di Jeju, yaitu "Hallan" karya Ha Myung-mi dan "My Name" karya Chung Ji-young.
Festival ini juga mengadakan pameran khusus bertajuk "Jeju 4.3: A Journey from Tragedy to Truth and Reconciliation" dari 12 hingga 16 Juli.
>>> Baterai iPhone Lipat Lebih Besar dari Galaxy Z Fold 8? Ini Faktanya
