Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin (20/7/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah memangkas sebagian pelemahannya menjadi 0,26% ke posisi Rp17.942/US$.
Pelemahan rupiah dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah ke US$88,70 per barel. Kenaikan ini berpotensi memperlebar defisit neraca transaksi dagang serta fiskal Indonesia.
Di sisi lain, indeks dolar Amerika Serikat (AS) justru menyusut 0,07% ke level 100,69. Pelemahan dolar AS biasanya mendorong penguatan mata uang Asia.
Sejumlah mata uang Asia tercatat menguat.
Won Korea Selatan memimpin penguatan dengan kenaikan 0,39%, disusul ringgit Malaysia, dolar Taiwan, yuan offshore, dolar Singapura, yuan China, dan yen Jepang.
Sebaliknya, peso Filipina, rupee India, baht Thailand, dan dolar Hong Kong ikut melemah. Rupiah menjadi mata uang dengan performa terburuk di Asia pada sore ini.