Lagu lainnya, 'Nail', adalah lagu orisinal pertama yang ia ciptakan bersama tim penulis lagu, menandai awal ia menuangkan ceritanya ke dalam musik.
Park sadar bahwa perubahan genre ke rock Jepang di usia 40-an mungkin dianggap tidak lazim oleh sebagian penggemar.
Ia siap menghadapi reaksi tersebut dan bertekad bekerja lebih keras untuk mengubah keraguan menjadi sorakan.
Titik Balik yang Berbeda
Park bukanlah orang asing dengan perubahan besar dalam hidupnya.
Ia memulai debut di Filipina, lalu pindah ke Korea untuk berlatih sebagai idola K-pop, dan mencapai puncak kesuksesan bersama 2NE1.
Namun, ia mengidentifikasi momen ini sebagai titik balik terbesar karena kini ia harus membuat semua keputusan sendiri, termasuk genre musik yang ingin dinyanyikan.
>>> Penampilan Baru Haerin NewJeans Picu Spekulasi soal Gigi Taringnya
"Dulu saya merasa lelah secara fisik setelah menyelesaikan semua jadwal. Sekarang bebannya lebih mental karena saya harus menilai dan memutuskan semuanya sendiri," ujarnya.
Meski begitu, ia akhirnya benar-benar merasakan bahwa ia sedang menciptakan musiknya sendiri.
Melepaskan Standar Kesuksesan Tinggi
Membuat musik sendiri sudah lama menjadi impian Park, tetapi yang membuatnya terwujud adalah kemampuannya melepaskan standar kesuksesan yang sangat tinggi yang ia tetapkan sejak lama.
Sebagai anggota 2NE1, grup yang hampir selalu menduduki puncak tangga lagu, ia terbiasa dengan standar tersebut.
"Setelah debut dengan 2NE1 dan konsisten di puncak tangga lagu, ada kalanya kami menangis karena lagu berada di peringkat 10.
Itu tampak tidak masuk akal jika dilihat sekarang," kenangnya.
Pengalaman mengadakan konser penggemar solo pertamanya di venue yang relatif kecil juga mengubah cara pandangnya.
Beberapa orang mengomentari ukuran venue yang kecil, tetapi Park justru menemukan kebahagiaan bisa bertatap muka dan bernapas seirama dengan penggemar dari jarak dekat.
