Permintaan maaf publik oleh komedian Lee Su-ji dan kreator konten viral Kim Seon-tae baru-baru ini menyoroti risiko yang semakin besar dalam membangun brand digital satu orang.
Para kreator ini memiliki kekuatan media yang signifikan, tetapi mereka tidak memiliki proses review dasar yang digunakan oleh entitas besar untuk memblokir konten ofensif atau sensitif secara politik.
>>> Spesifikasi Kamera Samsung Galaxy S26 FE Bocor, Bawa Kamera 50MP dan Zoom Optik 3x
Lee Su-ji mengeluarkan permintaan maaf tertulis di kanal YouTube-nya, Hot Issue Ji, pada Sabtu lalu.
Komedian berusia 41 tahun itu mendapat kecaman keras atas sketsa satir yang menggambarkan pegawai negeri sipil menghadapi pengunjung yang menuntut.
Para penonton mengkritik video tersebut karena dianggap mengejek warga yang terlibat dalam kontroversi pemilihan lokal 3 Juni, dan menuduhnya menggambarkan pengunjuk rasa sebagai pengeluh yang marah.
Insiden ini menjadi titik balik bagi Lee, yang membangun kariernya melalui sindiran sosial yang tajam di berbagai platform.
Sejak debut pada 2008, ia konsisten mengangkat tren masyarakat.
Dari peran terobosannya di Gag Concert KBS yang menirukan skema phishing suara, hingga parodi yang diakui di platform streaming Coupang Play, Lee dikenal karena penggambaran hiper-realistis tokoh sehari-hari dan ikon budaya pop.
Namun, transisinya ke konten YouTube berdurasi pendek mengungkap sisi pedang bermata dua dari sindiran digital.
Lee mengaku tidak memikirkan bagaimana aktingnya bisa menyakiti orang-orang yang terlibat dalam isu politik sensitif.
Ia menyatakan penyesalan mendalam karena telah menyebabkan rasa sakit pada siapa pun, meskipun niatnya hanya membuat orang tertawa, dan timnya menghapus video tersebut.
Dalam surat tulisan tangan yang diunggah di kanalnya, Lee meminta maaf karena tidak lebih berhati-hati.

