Kemarau yang berlangsung beberapa bulan terakhir membuat sebagian warga Cilandak dan Pondok Labu, Jakarta Selatan, harus berhemat air.
Debit air dari sumur bor yang menjadi sumber kebutuhan sehari-hari mulai berkurang, bahkan kualitasnya ikut berubah.
Bagi warga yang mengandalkan sumur, kondisi ini bukan hanya soal ketersediaan air.
Aktivitas rumah tangga hingga usaha kecil pun mulai terganggu.
Debit Sumur Menyusut Sejak Sebulan Terakhir
Nasir (35), warga Cilandak Barat RT 12/RW 02, mengaku penurunan debit air sumur bor mulai terasa sejak sebulan terakhir.
Air yang biasanya masih cukup mudah keluar pada pagi hari kini semakin sedikit ketika memasuki siang.
Ia menduga air tanah sudah menyusut sehingga tidak keluar saat disedot.
Selain debit yang berkurang, Nasir mulai mendapati perubahan pada kualitas air sumurnya.
Air yang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari terkadang mengeluarkan bau.
Kondisi itu membuatnya harus lebih berhati-hati menentukan peruntukan air.
Menurut Nasir, air tersebut masih dipakai untuk mandi sekeluarga dan dinilai masih layak.
Meski begitu, ia mengakui baunya cukup mengganggu.
Karena itu, keluarganya harus lebih cermat mengatur penggunaan air.
Untuk kebutuhan memasak, ia memilih memakai air galon isi ulang.
Ia tidak berani menggunakan air sumur yang mulai berubah kualitasnya untuk memasak.
Ketika air sumur tidak mencukupi, distribusi air bersih dari PAM menjadi salah satu bantuan yang cukup berarti bagi warga.
Nasir mengaku sempat mengikuti antrean air bersih dan merasakan manfaatnya.
Bantuan itu dapat mengurangi kebutuhan membeli air galon.
