Krisis gletser di Himalaya semakin nyata.
Sebuah laporan mendalam yang diterbitkan Article 14 pada November 2023 mengungkap dampak pemanasan global terhadap pegunungan tertinggi di dunia itu.
Curah hujan di Srinagar, Kashmir, hanya mencapai 9,5 milimeter pada Agustus, turun 87,63 persen dari normal 76,8 milimeter.
September juga hanya 20 milimeter, 73,33 persen di bawah rata-rata 75 milimeter.
Sungai Jhelum yang dulu dialiri air lelehan gletser berubah menjadi dasar sungai kering.
Perahu rumah yang selama lebih dari seabad mengapung di sana terdampar, sementara warga masuk ke sungai yang mengering untuk menangkap ikan.
Article 14 melaporkan bahwa dari panen apel hingga air minum, pasokan listrik, dan mata pencaharian, semuanya mulai terdampak akibat menyusutnya gletser Himalaya.
Saat itu, krisis gletser dianggap sebagai masalah desa-desa di dataran tinggi India. Bencana alam di daerah kurang berkembang sering tidak menarik perhatian berkelanjutan di dunia maju.
Tiga tahun kemudian, runtuhnya sebuah gletser Himalaya di Nepal menyadarkan dunia akan dahsyatnya krisis iklim.
Hingga 6 September, jumlah korban tewas mencapai 1.342 orang, dengan 4.996 orang masih hilang.
Korban berasal dari lebih dari 30 negara, termasuk Amerika Serikat, China, Australia, dan Korea Selatan. Para ahli memperingatkan tragedi ini bukan akhir, melainkan awal dari era 'kebangkrutan gletser'.
Era itu ditandai dengan kelangkaan air permanen yang akan menyebar ke India dan sebagian besar Asia.
Himalaya membentang sekitar 3.500 kilometer dari Afghanistan di barat hingga Myanmar di timur.
Pegunungan ini dikenal sebagai 'menara air Asia', memasok makanan, air minum, dan energi bagi sekitar 2 miliar orang.
