Ia juga menyoroti bahwa perhatian publik cenderung terfokus pada gletser raksasa. Namun masalah yang benar-benar serius adalah gletser kecil, yang mencakup kurang dari 0,5 kilometer persegi.
Gletser kecil menyumbang 75 persen dari gletser Himalaya. Gletser kecil sangat rentan terhadap perubahan iklim dan bisa hilang jauh lebih awal daripada gletser besar.
Zhang memperkirakan krisis kelangkaan air akan menjadi kenyataan sekitar tahun 2050, saat 'peak water' tercapai.
Peak water adalah titik ketika limpasan sungai dari lelehan gletser mencapai maksimum dan kemudian memasuki penurunan permanen.
Selama periode gletser mencair cepat, risiko bencana terkait gletser seperti banjir Nepal meningkat. Setelah titik kritis, komunitas akan mulai mengalami kelangkaan air.
Kelangkaan air akan menyebabkan ketidakpastian pertanian meningkat drastis, terutama di daerah yang bergantung pada air lelehan gletser. Daerah dekat Himalaya akan menghadapi kekurangan air minum.
Penurunan aliran sungai juga akan mengurangi keandalan pembangkit listrik tenaga air. Karena itu, krisis gletser terkait langsung dengan keamanan air jangka panjang.
Zhang menyerukan respons global. 'Tidak ada teknologi di Bumi yang mampu memulihkan gletser yang hilang pada skala ini,' katanya.
'Prioritas utama harus pengurangan emisi gas rumah kaca secara cepat.'
Ia juga mendesak Nepal dan negara-negara lain yang berbatasan dengan Himalaya untuk segera memperkuat kerja sama pencegahan bencana lintas batas, termasuk berbagi data pemantauan gletser dan salju secara transparan.
Langkah lain yang ia dorong adalah pembentukan sistem peringatan dini dan pembuatan peta risiko yang terperinci.
Persaingan Air dan Seruan Nepal
Meskipun ada peringatan tersebut, kekuatan besar justru bersaing untuk akses air Himalaya alih-alih bekerja sama menekan pemanasan global.