Kang Dae-seok, kepala cabang Yayasan Um Hong Gil Human di Nepal, menegaskan bahwa banjir dahsyat yang melanda Nepal baru-baru ini pada dasarnya adalah bencana buatan manusia.
Pernyataan itu disampaikannya dalam wawancara di Kathmandu, Selasa, saat membandingkan dua bencana besar yang menimpa Nepal dalam 11 tahun terakhir.
Menurut Kang, gempa bumi 2015 adalah bencana alam murni, tetapi banjir kali ini dipicu oleh runtuhnya gletser akibat pemanasan global.
Ia memperingatkan bahwa bencana buatan manusia bisa terulang jika tidak ada persiapan yang memadai.
Ketimpangan Iklim Global dan Domestik
Kang menyoroti ketimpangan sebagai pembeda utama bencana ini. Nepal hanya menyumbang 0,01 persen emisi karbon global, namun harus menanggung dampak pemanasan global.
"Orang-orang di sini bertanya mengapa mereka harus menderita karena karbon dioksida yang dipancarkan negara-negara kaya," ujarnya.
Ironisnya, ketimpangan juga terjadi di dalam Nepal. Gempa 2015 merusak berbagai wilayah, sedangkan banjir kali ini terkonsentrasi di wilayah utara yang miskin, seperti Rasuwa.
"Ibu kota Kathmandu yang kaya tetap aman, sementara kerusakan terkonsentrasi di Rasuwa yang lebih miskin," kata Kang.
Dengan demikian, dua lapis ketimpangan—global dan domestik—berperan dalam bencana terbaru ini.
Bencana Belum Berakhir
Kang menekankan bahwa banjir dahsyat ini bukan akhir dari bencana, melainkan awal.
Ia mengingatkan bahwa pada 2021, sekitar 20 orang tewas akibat banjir yang dipicu pencairan gletser di wilayah Melamchi, Nepal.
"Kita seharusnya mengindahkan peringatan itu, berkoordinasi dengan negara tetangga, dan bersiap sebelumnya, tetapi tindakan pencegahan yang memadai tidak pernah dilakukan," tuturnya.
Nepal memiliki lebih dari 200 gletser, tetapi negara itu kekurangan sumber daya untuk memeriksanya satu per satu.
"Komunitas internasional harus turun tangan," tambahnya.
Dampak bencana terus bertambah. Nepal bagian utara kekurangan air minum karena jalur pasokan darat dari China terputus.
"Daftar kebutuhan sangat panjang, mulai dari pakaian hingga produk kebersihan dan obat-obatan," kata Kang.
Ia mengimbau perhatian dan bantuan dari Korea saat Nepal berupaya pulih.
"Baik melalui sukarela atau penggalangan dana, bantuan apa pun diterima. Bahkan kontribusi kecil akan sangat berarti bagi warga Nepal yang menderita," pungkasnya.
