CHITWAN, Nepal — Seorang dokter di Nepal, Arbin Shakya, telah memeriksa lebih dari 200 jenazah korban banjir bandang yang melanda kawasan Himalaya.
Meski menghadapi pemandangan mengerikan, ia masih menyimpan harapan bagi warga Korea yang hilang.
>>> AS dan Iran Kembali Saling Serang, Gencatan Senjata Runtuh
Shakya bertugas di Rumah Sakit Bharatpur di distrik Chitwan, Nepal.
Selama enam hari, ia tidak meninggalkan rumah sakit untuk memeriksa jenazah yang terbawa arus sungai dan mengambil sampel DNA untuk identifikasi.
“Jenazah berdatangan deras pada dua hari pertama setelah banjir,” kata Shakya kepada Hankook Ilbo, Senin.
“Saya seorang dokter, ini pekerjaan yang harus saya lakukan untuk rakyat Nepal, tetapi secara emosional sangat melelahkan.”
Kondisi jenazah yang memprihatinkan
Chitwan terletak sekitar 200 kilometer dari zona banjir dekat perbatasan Tibet. Setelah terbawa arus hingga ke Chitwan, sebagian besar jenazah tidak utuh lagi.
“Kebanyakan hanya berupa lengan, kaki, atau badan. Mereka mengalami banyak luka akibat terbentur batu,” ungkap Shakya.
“Saya tidak bisa membayangkan betapa sakitnya tersapu arus sungai.”
Perendaman lama dalam air, ditambah cuaca panas dan lembap, membuat jenazah mengalami pembusukan lanjut.
Bekerja di tengah bau menyengat, Shakya merasa konflik batin: haruskah ia bersyukur karena membantu keluarga menemukan orang yang mereka cintai, atau berduka karena membawa kabar kematian?
Namun, setelah melihat rumah sakit dipenuhi orang-orang yang berharap menemukan serpihan tulang atau daging milik kerabat mereka yang hilang, Shakya bertekad bulat.
Ia akan melakukan yang terbaik dalam tugas yang dipercayakan kepadanya.