Jumlah korban tewas akibat banjir glasial dahsyat di Himalaya telah melampaui angka 1.000 orang pada Selasa (1/9).
Tim penyelamat dari China dan Nepal masih berupaya mencari korban selamat, termasuk puluhan orang yang dikhawatirkan terjebak di terowongan pembangkit listrik tenaga air.
>>> Modus Baru Pengedar Sabu di Subang: Sembunyi dalam Mainan Anak
Hampir 4.500 orang dilaporkan hilang setelah gelombang air beku, batu, dan puing-puing yang dipicu oleh runtuhnya gletser di dataran tinggi melanda daerah hilir pada Rabu pekan lalu.
Bencana ini menghancurkan seluruh permukiman dan menyisakan kehancuran di Nepal.
Tim penyelamat Nepal terus menggali, mengebor, dan meledakkan puing-puing dalam perlombaan melawan waktu untuk membebaskan sekitar 100 pekerja pembangkit listrik yang diduga terjebak di beberapa terowongan.
Sejauh ini, hanya jenazah yang ditemukan dari terowongan yang tersumbat lumpur, dan harapan menemukan korban selamat semakin menipis.
Ekskavator bekerja hingga malam hari pada Selasa, tetapi pembaruan dari militer menyebutkan bahwa "sejumlah besar air mulai mengalir" ke lubang yang mereka gali, sehingga mereka harus memulai bukaan baru.
Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menyebut bencana ini "tidak terbayangkan dan memilukan."
Dengan kamar mayat yang penuh sesak, otoritas mulai menguburkan ratusan jenazah yang tidak teridentifikasi setelah mengambil sampel DNA.
Setidaknya 17 jenazah juga telah ditarik dari sungai di India.
Polisi yang menggunakan drone untuk mencari korban selamat melaporkan pada Selasa bahwa mereka menemukan 24 jenazah di dalam satu rumah di distrik Nuwakot.
Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, mengatakan dia masih berharap beberapa dari ribuan orang yang hilang bisa selamat.
"Keajaiban memang terjadi," katanya kepada AFP. "Pada titik ini, saya tidak ingin sepenuhnya menyerah pada harapan."