Pencarian Korban dan Duka Keluarga
Di ibu kota Kathmandu, warga mengantre untuk mencari kerabat mereka yang hilang.
Debu Sapkota, seorang sopir berusia 58 tahun, memasang foto ibu mertuanya yang berusia 83 tahun dan cucunya, bersama puluhan foto lainnya.
Sapkota mengaku tidak punya banyak harapan mereka selamat setelah saksi melihat mereka terbawa arus.
"Saya di sini berharap menemukan jenazah mereka," katanya.
Sebagian warga yang percaya tidak akan pernah menemukan kerabat mereka yang hilang menggelar pemakaman simbolis sesuai adat Hindu Nepal.
Jeevan Shrestha, yang keponakannya yang berusia 12 tahun membakar patung jerami kecil yang melambangkan ayahnya yang hilang, mengatakan, "Kami sudah mencari ke mana-mana, pergi ke kamar mayat di seluruh negeri, tetapi tidak bisa menemukan jenazahnya."
Kebutuhan bantuan sangat besar.
>>> Jusuf Kalla Hadiri Salat Istisqa Massal di Al Azhar, Ini Pesannya
Seluruh komunitas telah tersapu, meninggalkan keluarga kehilangan tempat tinggal dan menggunakan tempat penampungan darurat di tengah hujan deras.
Jalan dan puluhan jembatan hancur, serta pembangkit listrik rusak. "Terlalu banyak tantangan," kata perwira polisi E.
Hawadi di distrik Nuwakot yang terdampak parah.
Dampak Perubahan Iklim dan Skala Bencana
Fotografer AFP di Nuwakot pada Selasa melihat warga mengais lumpur untuk mencari barang yang masih bisa dipakai dan memasang terpal plastik sebagai tempat berteduh di reruntuhan.
Warga asing yang hilang termasuk 583 orang di Nepal dan 261 orang di China, berasal dari lebih dari 30 negara.
Mereka termasuk turis yang datang untuk trekking di Himalaya, serta peziarah Hindu yang mencari kedamaian spiritual di Gunung Kailash yang suci di Tibet.
Ekonomi Nepal sudah tertekan dengan sumber daya terbatas untuk menanggapi bencana sebesar ini. Kathmandu memperingatkan biaya rekonstruksi bisa mencapai "miliaran dolar."