Pemerintahan Trump mendesak negara-negara G20 untuk lebih melindungi industri dan pasar tenaga kerja domestik mereka dari impor China.
Langkah ini diambil karena distorsi yang ditimbulkan dinilai 'menyedot' pertumbuhan ekonomi global.
>>> Cegah Karhutla, Dedi Mulyadi Larang Pendakian Gunung di Jawa Barat
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan dua hari para menteri keuangan G20 di Asheville, Carolina Utara, yang juga diwarnai perbedaan nada antara tuan rumah AS dan sejumlah peserta Eropa.
Pertemuan ini berlangsung di tengah aksi jual obligasi global akibat kekhawatiran atas tingkat utang dan tekanan inflasi.
Fokus pada China
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengatakan dia telah memperingatkan mitra dagang lainnya tahun lalu bahwa tarif AS yang lebih tinggi akan menyebabkan masuknya barang-barang China ke pasar mereka.
'Dan sayangnya, saya benar.
Mereka telah melakukannya, dan seluruh dunia mungkin perlu melihat dengan serius apa yang harus mereka lakukan untuk melindungi pekerjaan warga mereka,' ujarnya.
Bessent juga menyoroti banyaknya ekonomi non-pasar dengan ketimpangan besar yang 'menyedot pertumbuhan dari seluruh dunia'.
Dorongan ekspor besar-besaran China telah menekan ekonomi global, terutama setelah AS memberlakukan tarif tinggi dan larangan penuh pada beberapa produk China seperti kendaraan.
Dengan permintaan domestik yang lemah secara kronis, China meningkatkan ekspor kendaraan listrik, semikonduktor, dan barang lainnya.
Total ekspor China naik 23,9 persen pada Juli dibandingkan tahun lalu, memicu seruan di Eropa untuk pembatasan yang lebih ketat.
Menteri Keuangan Polandia, Andrzej Domanski, menyatakan mata uang China sangat undervalued dan China secara aktif mensubsidi ekspornya, yang menjadi masalah bagi Eropa.
Surplus perdagangan barang China dengan Uni Eropa mencapai 360,6 miliar euro tahun lalu, naik 15 persen dari 2024.