China mendorong rencana membangun mega-bendungan Medog di Sungai Yarlung Tsangpo.
Sungai itu mengalir dari Dataran Tinggi Tibet menuju India. China beralasan proyek ini untuk netralitas karbon dan kebutuhan pasokan listrik.
Proyek tersebut akan memberi China kendali lebih besar atas sumber daya air dan berpotensi mengatur aliran ke negara-negara hilir seperti India.
India secara terbuka menentang proyek itu.
India menyebutnya sebagai ancaman keamanan dan potensi 'bom air'. India juga merespons dengan merencanakan lebih dari selusin bendungan di sungai-sungai sepanjang perbatasannya dengan China.
India juga mengembangkan langkah seperti 'menara gletser buatan', yang membekukan air sungai di daerah kering dataran tinggi, dan reservoir bawah tanah untuk menyimpan air lelehan.
Kritikus memperingatkan pembangunan tak terkendali di Himalaya dapat mengganggu stabilitas medan di sekitar zona gletser, mempercepat keruntuhan dan pencairan gletser.
Laporan 'Global Water Bankruptcy' yang dirilis Januari oleh United Nations University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH) menyebut jumlah konflik terkait air melonjak dari 20 pada 2010 menjadi lebih dari 400 pada 2024.
Laporan itu juga menemukan bahwa 75 persen populasi dunia hidup di daerah dengan pasokan air tidak aman.
Sekitar 4 miliar orang mengalami kekurangan air parah setidaknya satu bulan setiap tahun.
Kelangkaan air pun muncul sebagai pemicu potensial konflik antarnegara. Nepal menyerukan tanggung jawab internasional.
Negara berpenduduk sekitar 30 juta jiwa itu sangat bergantung pada pertanian dan pariwisata.
Kontribusi Nepal terhadap emisi gas rumah kaca global kurang dari 0,1 persen.
Menurut Global Carbon Project (GCP), Amerika Serikat bertanggung jawab atas bagian terbesar emisi kumulatif sejak 1750, yaitu 24 persen dari total global.