unique visitors counter
⌂ Beranda › Lifestyle › Gen Z Korea Bagi Biaya Kencan Sesuai Pesanan, Bukan Sekadar 50-50
Lifestyle

Gen Z Korea Bagi Biaya Kencan Sesuai Pesanan, Bukan Sekadar 50-50

Ilustrasi pasangan muda Korea Selatan menghitung pembagian biaya kencan lewat aplikasi di ponsel
Gen Z Korea Bagi Biaya Kencan Sesuai Pesanan, Bukan Sekadar 50-50
A A Ukuran Teks16px

Generasi Z di Korea Selatan membagi biaya pertemuan dengan cara yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka tidak sekadar membagi rata, tetapi menghitung persis apa yang masing-masing pesan.

Kebiasaan ini disebut "1/N baru". Bagi orang muda Korea, membayar sesuai konsumsi sendiri dianggap bentuk pertimbangan dan keadilan, bukan sikap dingin.

Generasi lebih tua yang terbiasa bergiliran mentraktir seluruh meja memandang cara ini asing. Namun Gen Z menilai penyelesaian transparan justru melindungi hubungan dari rasa berutang.

1/N Baru: Bayar Sesuai yang Dipesan

Salah satu peserta diskusi menceritakan pengalaman di pub Jepang milik temannya. Karena tamu datang tidak bersamaan, makanan dan minuman tiap orang berbeda.

Ia membayar seluruh tagihan lebih dulu, lalu memecahnya lewat spreadsheet berdasarkan waktu kedatangan dan pesanan. Setiap orang hanya membayar apa yang dikonsumsi.

Peserta lain menyebut beberapa kelompok pertemanannya memakai aplikasi untuk membagi pengeluaran. Ada juga yang menilai cara ini sudah lazim di kalangan mereka.

Menurut seorang peserta, orang yang tidak minum alkohol tidak diminta menanggung minuman. Yang baru bergabung di putaran ketiga juga tidak dibebani biaya putaran pertama.

Peserta lain menilai tidak menerapkan 1/N justru bisa memunculkan dinamika penuh perhitungan.

Jika teman membeli barang senilai 20.000 won, muncul pertanyaan apakah harus membalas dengan nilai setara.

Dengan membagi adil saat itu juga, tidak ada rasa canggung atau sakit hati yang tersisa. Cara ini dinilai lebih praktis untuk menjaga hubungan tetap berjalan.

Kencan: Bukan Sekadar 50-50

Dalam hubungan romantis, pembagian biaya menjadi lebih rumit. Diskusi menyoroti gagasan "rekening kencan", yaitu akun bersama tempat pasangan menyetor dana untuk pengeluaran berkencan.

Seorang peserta mengaku tidak akan mengusulkannya sendiri, meski tidak melarang jika pasangan meminta. Ia mengenal pasangan yang memakai rekening kencan dan menilai ada untungnya.

Dengan anggaran jelas, pengeluaran lebih terkendali. Karena uang berasal dari setoran bersama, rasa bahwa satu pihak terus ditraktir juga berkurang.

Namun ia menilai rekening kencan tetap terasa agak dingin. Tidak banyak temannya yang melakukannya.

Peserta lain mengaku tidak pernah membagi setiap biaya secara persis saat berkencan. Ia membayar saat ingin mentraktir, dan pasangannya melakukan hal sama.

Memecah pengeluaran kencan santai secara rinci dinilai seperti transaksi bisnis. Untuk pengeluaran besar seperti perjalanan, mereka sepakat menyamakan jumlah agar mendekati separuh-separuh.

Satu perjalanan bisa memakan biaya ratusan ribu hingga 1 juta won. Jumlah itu menjadi beban finansial yang perlu diantisipasi.

Peserta lain tidak menyukai pembagian 50-50 untuk semua hal. Menyesuaikan jumlah, bergiliran membayar, atau membuat rekening kencan sejak awal dinilai sama-sama masuk akal.

Rekening kencan bukan semata menghindari pengeluaran untuk pasangan. Menurutnya, itu lebih soal menabung, terutama bagi yang baru masuk dunia kerja.

Jumlah setoran tidak harus identik. Pendapatan dan kondisi keluarga bisa diperhitungkan, lalu disesuaikan dengan rasio sisa uang masing-masing.

Seorang peserta awalnya tidak yakin dengan rekening kencan. Namun temannya telah memakainya bertahun-tahun karena merasa terbebani ketika pasangan yang lebih mapan terus membayar.

Temannya itu yang mengusulkan membuka rekening agar bisa membayar porsinya secara adil.

Pasangannya sempat bertanya apakah itu perlu, tetapi setelah beberapa tahun justru menilai rekening bersama praktis untuk perjalanan dan berbagai kencan.

Seorang peserta bertanya apakah dalam hubungan tetap lelaki yang membayar lebih. Peserta lain menilai ada ekspektasi sosial yang mendasarinya.

Dulu ada kesenjangan upah dan anggapan kuat bahwa lelaki adalah kepala rumah tangga yang bertanggung jawab atas keluarga.

Ia menduga keengganan sebagian perempuan terhadap rekening kencan terkait warisan budaya itu.

Dengan skema 50-50 atau rekening kencan, perempuan bisa merasa justru dirinya yang membayar lebih. Bisa juga muncul perasaan bahwa pasangannya tidak mencintainya.

Peserta lain menyebut hal itu memang umum terjadi. Ia jarang melihat teman yang benar-benar mempermasalahkan lelaki membayar lebih.

Yang penting adalah apakah pihak lain menganggapnya sebagai hak. Beberapa temannya memperhatikan "sikap membayar", misalnya jika sudah ditraktir makan, pasangan menawarkan membayar kopi.

Mereka tidak menuntut pembagian persis separuh. Yang diinginkan adalah perasaan bahwa orang tersebut juga berpartisipasi dalam kencan.

Peserta itu mengaku umumnya membayar lebih saat berkencan.

Ia justru merasa tidak enak jika pasangannya yang membayar lebih, sehingga membayar sendiri terasa lebih mudah daripada menanggung rasa bersalah.

Peserta lain menegaskan hal ini berlaku untuk segala hal, bukan hanya uang. Masalah dimulai ketika kebaikan dianggap sebagai hak.

Membayar lebih bukan persoalan utama. Yang terburuk adalah ketika muncul pikiran bahwa seseorang hanya berkencan karena uang.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru