Soojin Cho, seorang pendidik senior bahasa Korea di Pennsylvania, menerima Medali Budaya dari Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan pada perayaan Hari Hangeul ke-580 di Seoul, 9 Oktober.
Penghargaan itu diberikan atas dedikasinya selama hampir tiga dekade mengembangkan kurikulum bahasa Korea bagi pelajar di luar negeri dan memimpin jaringan pendidikan regional.
Cho menjabat sebagai presiden ke-12 dan ke-13 National Association for Korean Schools, Mid-Atlantic Chapter, periode 2022–2026.
Di bawah kepemimpinannya, cabang tersebut menaungi 28 sekolah Korea di Pennsylvania, Delaware, dan New Jersey selatan, dengan sekitar 200 guru dan lebih dari 1.000 siswa.
Ia juga menjabat sebagai direktur dan kepala sekolah HanGook Heritage Education Academy di Pennsylvania.
Dalam wawancara dengan The Korea Times di Seoul pada 16 Oktober, Cho menyampaikan rasa syukur atas pengakuan negara dan perubahan besar dalam cara pendidikan bahasa Korea diterima saat ini.
Menurutnya, minat belajar bahasa Korea kini datang dari beragam latar belakang, termasuk warga Korea-Amerika, non-Korea, adoptees Korea, dan keluarga multikultural.
Cho mengaku bangga melihat penutur non-asli tampil percaya diri berbahasa Korea setelah berlatih tekun.
Baginya, bahasa Korea kini bukan sekadar bahasa asing, melainkan jembatan yang menghubungkan orang dari budaya berbeda.
Hangeul sebagai Jangkar Identitas Budaya
Selama 28 tahun berkarier, Cho menilai momen paling berharga adalah menyaksikan generasi kedua dan ketiga Korea-Amerika menemukan akar budaya mereka.
Ia menyebut tantangan terbesar adalah kurangnya guru berkualitas dan dukungan finansial untuk mengoperasikan sekolah Korea.
Namun, kegembiraan melihat perkembangan siswa menjadi pendorong utama untuk mengatasi kesulitan tersebut.
Cho menekankan bahwa belajar Hangeul di lingkungan luar negeri berfungsi sebagai jangkar penting bagi generasi muda Korea-Amerika dalam memahami identitas mereka.
Dengan mempelajari bahasa, sejarah, dan budaya Korea, siswa dapat tumbuh menjadi Korea-Amerika yang percaya diri dan berkontribusi bagi masyarakat Amerika.
Ia juga mengenang pengalaman anak-anaknya yang berusaha berbicara bahasa Korea dengan nenek mereka di AS.
Hal itu menegaskan bahwa bahasa Korea lebih dari alat komunikasi, tetapi jembatan yang menghubungkan keluarga dan generasi.
Cho memandang penghargaan ini sebagai milik bersama para guru, pengurus asosiasi, dan orang tua di sekolah akhir pekan.
Ia berterima kasih atas kolaborasi mereka dan berkomitmen melanjutkan pendidikan bahasa Korea bagi generasi mendatang.
Menyebarkan Hangeul hingga ke Vietnam
Setelah upacara penghargaan di Seoul, Cho bertolak ke Ho Chi Minh City, Vietnam, untuk memberikan kuliah dan lokakarya bagi mahasiswa yang mempelajari bahasa Korea.
Di sana, ia menekankan bahwa penguasaan bahasa Korea dapat membuka jalur karier dan mendorong pertukaran internasional.
Cho terkesan dengan antusiasme dan partisipasi aktif mahasiswa Vietnam dalam belajar bahasa Korea.
Ia menyadari kembali bahwa bahasa Korea tidak hanya melestarikan identitas warisan bagi generasi Korea-Amerika, tetapi juga menjadi bahasa penting untuk komunikasi global dan peluang masa depan.
Cho merangkum hidupnya sebagai pendidik imigran dengan tiga kata: bangga, berdedikasi, dan memiliki tujuan.
Ia memandang pelestarian bahasa dan budaya Korea di luar negeri sebagai bentuk modern dari gerakan kemerdekaan Korea.
Pesan Cho bagi siswa, pendidik, dan komunitas yang menjaga bahasa Korea di seluruh dunia adalah teruslah menjalani perjalanan ini dengan bangga, semangat, dan keyakinan.
