Harapan semua orang sama: baju selesai dicuci, bau pun hilang. Namun pakaian kerap tetap beraroma apek setelah dicuci, dan menurut ulasan yang dilansir dari SOS pada 31 Oktober 2026, penyebabnya bisa ditelusuri ke empat hal — dua soal mikroorganisme, dua soal kebiasaan mencuci.
Biang Pertama: Mikroorganisme yang Betah di Kain
Bakteri yang tersisa di serat kain. Proses mencuci tidak selalu menyingkirkan seluruh bakteri. Sisa bakteri pada serat kain dapat berkembang begitu kain terpapar kelembapan atau keringat, lalu menimbulkan aroma apek.
Handuk dan pakaian olahraga. Kedua tekstil ini paling lama berada dalam kondisi lembap. Keringat dan sisa minyak tubuh yang menempel, ditambah kelembapan yang terperangkap, menjadi lahan subur bagi mikroorganisme penyebab bau. Karena itu, handuk dan baju olahraga sering menjadi sumber bau apek di tumpukan cucian.
Biang Kedua: Kebiasaan Mencuci yang Keliru
Cucian dibiarkan di mesin. Pakaian yang terlalu lama berdiam di dalam mesin cuci setelah pencucian rampung akan menyerap bau tak sedap — ruang lembap di dalam tabung adalah tempat ideal bagi mikroorganisme untuk berkembang biak.
Pakaian bayi tercampur pakaian dewasa. Pakaian bayi, seperti handuk dan popok kain, juga pakaian anggota keluarga berkulit sensitif, disebut memerlukan perhatian lebih. Alasannya, kebersihan cucian bukan hanya tentang noda yang lenyap, melainkan juga tentang berkurangnya kuman yang menempel pada kain.
Lalu, Bagaimana Mengatasinya?
Ada dua penanganan yang ditekankan. Pertama, jangan biarkan cucian menunggu: jemur pakaian segera setelah dicuci dan pastikan kering sepenuhnya sebelum diangkat, agar kelembapan tidak memberi mikroorganisme kesempatan berkembang. Kedua, khusus handuk dan pakaian olahraga, deterjen saja dinilai belum cukup — tambahkan antiseptik khusus pakaian saat mencuci, karena antiseptik membantu mengurangi kuman yang tertinggal pada kain sehingga aroma apek ikut hilang.