unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Protes Gen Z di Frankfurt Berujung Ricuh dan Penjarahan Toko
News

Protes Gen Z di Frankfurt Berujung Ricuh dan Penjarahan Toko

Suasana ricuh saat aksi protes Gen Z di Frankfurt, Jerman
Protes Gen Z di Frankfurt Berujung Ricuh dan Penjarahan Toko
A A Ukuran Teks16px

Aksi protes yang digerakkan generasi Z di sejumlah kota besar Jerman berakhir ricuh pada Sabtu malam.

Di Frankfurt, massa berjaket hoodie menjarah sejumlah toko setelah demonstrasi menuntut pendidikan lebih baik dan biaya hidup lebih rendah.

Sedikitnya dua toko dijarah dan beberapa lainnya mengalami kerusakan. Polisi berupaya mengendalikan situasi di pusat kota.

"Gangguan kekerasan masih berlangsung," kata polisi Frankfurt melalui X. "Di pusat kota, jendela beberapa toko telah dipecahkan.

Bom molotov juga dilemparkan ke arah petugas darurat."

Polisi meminta warga menjauhi pusat kota atau meninggalkan area tersebut. Aksi unjuk rasa digelar di 34 kota, termasuk Berlin, Frankfurt, dan Munich.

Tuntutan Gen Z dan Bentrokan di Frankfurt

Demonstrasi diorganisasi kelompok kampanye "Gen Z regelt" yang berarti "Gen Z mengambil alih". Kelompok ini menolak wajib militer dan menuntut investasi lebih besar di bidang pendidikan.

Juru bicara Gen Z regelt, Lina Friedrich, menyatakan pihaknya memperjuangkan perdamaian dan kebebasan.

"Yang terpenting bagi kami adalah dukungan lebih baik untuk sistem kesehatan dan pendidikan," ujarnya di Berlin.

Ia juga menegaskan penolakan terhadap wajib militer dan menyerukan distribusi beban yang lebih adil. Di Hamburg, sejumlah barikade dibakar.

Data resmi pada Sabtu sore menunjukkan jumlah peserta di bawah perkiraan awal penyelenggara sebanyak 182.000 orang.

Kepolisian di Frankfurt, Munich, dan Berlin melaporkan hingga 18.000 demonstran, separuh dari sekitar 36.000 yang tercantum di situs penyelenggara.

Otoritas Jerman menyebut demonstrasi yang bertepatan dengan perayaan Halloween itu sebagian besar berlangsung damai. Namun, mereka memperingatkan upaya kelompok ekstremis memanfaatkan gerakan tersebut.

Kementerian Dalam Negeri federal menyatakan sebagian kelompok ekstremis sayap kiri dan organisasi terkait gerakan asing turut memobilisasi dukungan.

Menteri Dalam Negeri Hesse, Roman Poseck, mengingatkan agar Jerman tidak meniru Prancis.

"Kita semua mengingat gambaran dari Prancis — penjarahan, rumah terbakar, kendaraan polisi dibakar, dan serangan terhadap petugas," katanya. "Prancis tidak boleh dijadikan model dalam hal ini."

Sejumlah usaha di berbagai kota memasang papan penutup jendela dan berencana tutup lebih awal.

Langkah itu diambil karena kekhawatiran akan kerusuhan, termasuk di sepanjang boulevard belanja mewah Kurfuerstendamm, Berlin.

Penyelenggara menyoroti tekanan yang dirasakan generasi muda di ekonomi terbesar Eropa tersebut.

Seorang demonstran berusia 18 tahun bernama Steve, yang dijadwalkan berpidato di Munich, menuding pemerintah hanya memangkas anggaran dan menambah beban.

"Kami akan terus menggunakan hak dasar untuk berkumpul sampai Anda berhenti mengabaikan kami," ujarnya kepada Kanselir Friedrich Merz.

Jerman memang tengah berjuang memulihkan pertumbuhan ekonomi.

Negara itu juga menghadapi tekanan pada sistem pensiun dan layanan publik seiring pensiunnya generasi baby boomer dan menyusutnya populasi usia kerja.

Namun, muncul pertanyaan tentang siapa yang menggerakkan kampanye ini dan apakah benar-benar dipimpin anak muda.

Organisasi payung siswa nasional Jerman, BSK, telah menjauhkan diri dari inisiatif tersebut dan berencana menggelar aksi terpisah pada 20 November.

Seorang mahasiswa Universitas Teknik Berlin, Sean Baker, mengatakan akan ikut protes untuk menyoroti kondisi bangunan kampus yang buruk.

"Saat masuk ke dalam ruangan, tampak seperti gedung terbengkalai," katanya. "Padahal di sinilah kami diharapkan belajar setiap hari."

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru