Gerhana Matahari Total yang akan melintasi Greenland, Islandia, Spanyol, Portugal, hingga Rusia pada 12 Agustus 2026 menjadi perhatian para ilmuwan.
Momen langka ini dimanfaatkan untuk mempelajari korona, lapisan atmosfer terluar Matahari yang masih menyimpan banyak misteri.
>>> Sosiolog: Penyuka Sesama Jenis Sulit Cari Pasangan, Rentan Konflik
Salah satu teka-teki terbesar adalah mengapa suhu korona mencapai jutaan derajat Celcius, jauh lebih panas dibanding permukaan Matahari.
Kesempatan Langka Mengamati Korona
Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyebut gerhana matahari total memungkinkan korona terlihat jelas saat Bulan menutupi piringan Matahari.
Dalam kondisi normal, cahaya fotosfer terlalu terang sehingga korona sulit diamati dari Bumi.
>>> Marbot di Purwakarta Tewas Disabet Samurai Saat Hendak Salat Dzuhur
Gerhana total menjadi salah satu momen terbaik bagi peneliti untuk mengamati struktur, dinamika, dan medan magnet korona secara langsung.
Fenomena ini penting untuk menjawab mengapa korona memiliki suhu sekitar 1 juta hingga 3 juta derajat Celcius, sementara permukaan Matahari hanya sekitar 5.500 derajat Celcius.
>>> Pan Brothers Catat Rugi US$5,73 Juta pada Semester I-2026
Para ilmuwan masih meneliti berbagai kemungkinan penyebabnya, mulai dari rekoneksi medan magnet hingga gelombang magnetohidrodinamika (MHD) yang diduga membawa energi ke atmosfer luar Matahari.

