Di desa Prempur Gonahi, kematian bayi baru lahir kembali terjadi setelah program dihentikan. Sebelum program CARE dimulai pada Desember 2022, desa itu rata-rata 10-15 kematian bayi per tahun.
Pada 2024, tercatat nol.
Namun sejak program dibatalkan, bayi baru lahir mulai meninggal lagi. Kematian pertama terjadi pada Desember, dan empat lagi menyusul hingga Maret.
Dampak pada Gizi dan Perawatan
Program gizi yang didanai AS sangat penting, terutama untuk anak-anak.
Prevalensi wasting (malnutrisi akut) pada anak di bawah lima tahun di provinsi Kabita meningkat dari 7,4 persen menjadi 12,3 persen setelah pemotongan dana.
>>> Pertalite Dibatasi, Dua Golongan Ini Beralih ke Pertamax
Kabita sendiri pernah menerima bubuk nutrisi saat hamil anak ketiganya.
Namun saat hamil anak keempat, suplemen dan makanan untuk ibu hamil di pusat persalinan setempat sudah tidak ada.
Perawat Punam Mahato yang merawat Kabita mengatakan, Kabita tampak pucat dan disarankan untuk tes darah. Namun Kabita tidak memahami pentingnya tes itu dan tidak pernah melakukannya.
Rajkumari Patel, relawan kesehatan masyarakat yang bekerja di program CARE, mengatakan mereka biasanya akan menjelaskan pentingnya tes tersebut.
Tanpa mereka, Kabita tidak mendapat informasi yang cukup.
Kabita menderita sakit perut yang semakin parah dan tubuhnya membengkak. Pada Desember, saat hamil 28 minggu, ia tidak bisa berjalan.
Suaminya bekerja di India, jadi ia meminta bantuan bibinya, Shraddha Mukhiya.
Di rumah sakit, dokter menemukan detak jantung bayi lemah dan kemudian memastikan bayi Kabita meninggal. Rumah sakit tidak mampu mengeluarkan janin, dan mereka pulang tanpa perawatan lebih lanjut.
Keesokan harinya, Kabita mengalami kejang akibat preeklamsia. Di rumah sakit lain, ia diberi oksigen, tetapi hemoglobinnya sangat rendah.
