Di sebuah desa terpencil di Nepal, Kabita Mukhiya, 20 tahun, meninggal dunia pada Desember lalu saat hamil 28 minggu.
Kematiannya terjadi setelah program bantuan gizi dan kesehatan reproduksi yang didanai AS dihentikan.
>>> Bayar Tarif Impor Tahun Lalu? Cek Rekening, Bisa Dapat Pengembalian Dana dari FedEx atau UPS
Kabita mengalami preeklamsia dan anemia berat, namun tidak mendapatkan perawatan prenatal yang memadai. Para pekerja kesehatan yang biasa mengunjungi desanya untuk membantu ibu hamil telah berhenti datang.
Keputusan pemerintah AS membubarkan USAID, donor kemanusiaan terbesar di dunia, telah melumpuhkan perawatan ibu dan bayi baru lahir.
Program nutrisi untuk jutaan ibu hamil dan anak-anak juga terpangkas.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, pemotongan bantuan AS dan negara lain memaksa 60 persen organisasi perempuan mengurangi layanan mereka.
Dampaknya mulai terlihat di berbagai negara, termasuk Nepal.
Kematian Ibu dan Bayi Meningkat
Di distrik Rautahat, salah satu daerah termiskin di Nepal, angka kematian ibu dan bayi baru lahir meningkat drastis.
Mona Sherpa, direktur CARE Nepal, mengatakan jumlah kematian ibu muda saat melahirkan benar-benar meningkat.
Program senilai 35 juta dolar AS yang dibatalkan telah menjangkau lebih dari 100.000 perempuan dan anak perempuan dalam tiga tahun pertama.
Program ini melengkapi pusat persalinan dan melatih perawat, bidan, serta pekerja kesehatan sukarela.
Para pekerja ini rutin mengunjungi ibu hamil di rumah, menjelaskan tanda-tanda bahaya kehamilan, dan mendorong mereka untuk memeriksakan kehamilan.
Tanpa mereka, banyak ibu hamil kesulitan memahami sistem medis.
Di pusat persalinan Dewahi Gonahi, jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan turun setengahnya. Petugas kesehatan Kishori Shah mengatakan, komplikasi tidak terdeteksi dengan cepat, sehingga sering berujung pada keadaan darurat.
