Tim penyelamat Nepal masih berupaya menemukan korban selamat yang diduga terjebak di terowongan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) pada Rabu, dua pekan setelah banjir dahsyat yang dipicu runtuhnya gletser.
Banjir bandang setinggi tsunami pada 26 Agustus itu bermula di perbatasan China-Nepal dan menewaskan lebih dari 1.410 orang, sementara 5.651 lainnya dinyatakan hilang.
Juru bicara Angkatan Darat Nepal, Raja Ram Basnet, mengatakan kepada AFP bahwa operasi pencarian dan penyelamatan di terowongan proyek PLTA Trishuli 3A, 3B, dan Chilime masih terus berlangsung.
Otoritas penanggulangan bencana Nepal melaporkan 1.367 jenazah telah ditemukan dan 5.132 orang masih hilang hingga Rabu.
Sementara itu, media pemerintah China melaporkan 43 orang tewas dan 519 orang hilang di wilayah China.
Ratusan warga asing dan pekerja PLTA termasuk dalam daftar orang hilang.
Tiga orang berhasil diselamatkan dari dalam terowongan, yaitu dua warga Nepal pada Jumat dan satu warga China pada Sabtu.
Namun, belum ada konfirmasi resmi mengenai adanya korban selamat lainnya sejak saat itu.
Upaya Identifikasi dan Perlindungan Korban
Otoritas Nepal mengimbau keluarga korban hilang di luar negeri, terutama orang tua atau anak, untuk mengirimkan sampel DNA melalui email.
Pengumuman resmi itu juga merinci jenis tes genetik yang harus dilakukan anggota keluarga berdasarkan jenis kelamin dan hubungan dengan orang yang hilang.
Ribuan warga yang mengungsi akibat bencana kini tinggal di kamp-kamp penampungan.
Organisasi amal Save the Children menyebutkan sebanyak 540 anak terpisah dari orang tua mereka.
Polisi Nepal menyatakan telah meningkatkan kewaspadaan untuk memastikan keamanan anak-anak dan perempuan di kamp pengungsian.
Juru bicara kepolisian Nepal, Abi Narayan Kafle, mengatakan kepada AFP bahwa mereka kini lebih waspada di pusat penampungan sementara di daerah terdampak, terutama untuk melindungi anak-anak, perempuan, dan kelompok minoritas dari risiko pelecehan seksual.
Kafle menambahkan bahwa konseling psikososial juga telah mulai diberikan di berbagai kamp.
Meskipun penyebab pasti runtuhnya gletser belum jelas, perubahan iklim disebut mempercepat pencairan gletser di seluruh dunia dan meningkatkan risiko bencana serupa.
Nepal, negara berpenduduk 30 juta yang sebagian besar rural dan minim kontribusi emisi gas rumah kaca, memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai miliaran dolar.
Kafle mengatakan petugas keamanan telah melibatkan warga untuk mencari jenazah yang diduga terkubur puing.
Kami memulai kampanye pencarian khusus untuk jenazah di sepanjang koridor Sungai Bhotekoshi, ujarnya.
Kami juga menggunakan drone untuk mencari jenazah, pungkasnya.