Menjelang Hari Pembebasan Nasional Korea ke-81, sebuah karya kaligrafi yang lama hilang karya pahlawan kemerdekaan Ahn Jung-geun akhirnya kembali ke tanah air dari Jepang.
Karya berupa gulungan delapan karakter ini pertama kali dipamerkan untuk publik pada Kamis di Aula Jungmyeongjeon, Istana Deoksu, Seoul.
>>> Seoul Peringati HUT ke-81 Kemerdekaan dengan Upacara Lonceng Bosingak
Kaligrafi tersebut bertuliskan 'Man guk gong beop bul yeo dae po' yang berarti 'Hukum internasional tidak sebanding dengan kekuatan militer'.
Ungkapan itu mencerminkan kenyataan pahit tentang politik kekuasaan global, bahwa perjanjian diplomatik dan hukum internasional tidak berarti apa-apa saat berhadapan dengan kekuatan senjata yang unggul.
Ahn menulis kritik tajam ini pada Maret 1910 di Penjara Lushun, Tiongkok timur laut, beberapa hari sebelum dieksekusi oleh otoritas kolonial Jepang pada usia 30 tahun.
Lima bulan sebelumnya, pada 26 Oktober 1909, Ahn telah membunuh Ito Hirobumi, Perdana Menteri Jepang pertama sekaligus residen jenderal Korea, di Stasiun Kereta Harbin.
Setelah ditangkap, Ahn bersikeras bahwa tindakannya adalah aksi perang yang sah sebagai letnan jenderal Tentara Kebenaran Korea.
Ia berulang kali menuntut diadili berdasarkan hukum internasional, berharap kerangka hukum dunia melindungi statusnya sebagai tawanan perang.
Namun, otoritas Jepang mengabaikan protokol hukum internasional, menolak mengakuinya sebagai kombatan, mengadilinya sebagai pembunuh biasa, dan menjatuhkan hukuman mati.
Delapan karakter pada gulungan itu menangkap kesadaran menyakitkan Ahn di hari-hari terakhirnya: meskipun kekuatan imperialis mengklaim menegakkan hukum global, dunia sebenarnya dikuasai oleh hukum rimba.
Gulungan vertikal setinggi hampir dua meter ini menampilkan goresan kuas Ahn yang percaya diri, memadukan gaya kaligrafi standar, berjalan, dan kursif dalam sapuan cepat dan tegas.
