Gyeongju, ibu kota kuno Kerajaan Silla (57 SM–935 M), berubah menjadi ajang pertemuan sejarah dan inovasi terkini.
Pameran Industri Warisan Dunia 2026 resmi dibuka Kamis ini, menawarkan wawasan tentang bagaimana kecerdasan buatan (AI), realitas tertambah, dan media imersif dapat merevitalisasi sektor warisan budaya nasional.
Acara tahun ini menandai ulang tahun ke-10 dan menjadi yang terbesar sejauh ini, dengan melibatkan 133 perusahaan, lembaga penelitian, dan organisasi.
Perluasan ini mencerminkan dorongan nasional untuk menjembatani pelestarian sejarah dengan industri berteknologi tinggi, menjadikan warisan sebagai mesin ekonomi yang berorientasi masa depan.
Di seluruh venue, pameran dinamis akan menampilkan teknologi restorasi canggih, alat arsip digital, produk konsumen, dan instalasi publik interaktif.
Fokus utama program 2026 adalah integrasi AI dan realitas tertambah, alat yang semakin digunakan dalam rekonstruksi sejarah, penceritaan digital, dan jangkauan global.
Diskusi dan Acara Menarik
Pada Jumat pukul 14.00, Suwen Wang, spesialis penceritaan digital dan teknologi warisan, bersama profesor Universitas Kyung Hee, Kim Sang-gyun, akan memimpin sesi tentang bagaimana AI generatif dapat membuka kemungkinan ekonomi dan kreatif baru di industri ini.
Pada Sabtu pukul 14.00, ilmuwan saraf Jang Dong-sun akan bergabung dengan mantan pemain profesional baduk (go), Lee Se-dol, untuk berdebat tentang peran manusia, nilai artistik, dan identitas warisan budaya yang terus berkembang di dunia yang digerakkan AI.
Menambah sentuhan kreatif, program ini mencakup pemutaran film yang dihasilkan AI yang menyoroti lanskap sejarah Gyeongju yang kaya, serta Pameran Budaya Hanok yang merayakan arsitektur klasik Korea dengan tema 'Dari warisan ke industri, satu dekade kemajuan'.
Pameran berlangsung setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 17.00, dengan tiket masuk gratis bagi semua pengunjung yang telah mendaftar sebelumnya maupun yang datang langsung.
