Korea Selatan mulai melirik pekerja tambang kaya di Mongolia sebagai pasar baru untuk layanan kesehatan dan wisata medis.
Organisasi Pariwisata Korea (KTO) baru saja menyelesaikan roadshow medis di Ulaanbaatar dan Dalanzadgad, pusat pertambangan di Mongolia selatan.
Alih-alih menargetkan wisatawan umum, inisiatif ini menyasar eksekutif, insinyur, dan pekerja tambang yang didukung oleh sektor sumber daya alam Mongolia.
Sektor ini menyumbang 30 persen dari produk domestik bruto Mongolia dan hampir semua ekspornya.
Data KTO menunjukkan wisatawan medis dari Mongolia menghabiskan rata-rata 9,88 juta won (sekitar Rp 116 juta) per perjalanan.
Angka itu hampir 1,5 kali lipat dari rata-rata pengeluaran wisatawan medis internasional di Korea.
Tahun lalu, lebih dari 35.000 pasien Mongolia berobat ke fasilitas kesehatan Korea. Jumlah itu mewakili lebih dari 20 persen dari seluruh kunjungan warga Mongolia ke Korea.
Kemitraan Strategis dengan Asosiasi Tambang dan Institusi Keuangan
Untuk menangkap pasar bernilai tinggi ini, KTO tidak menggunakan saluran pemasaran tradisional. Mereka langsung bernegosiasi dengan Asosiasi Pertambangan Nasional Mongolia yang mewakili 90.000 pekerja.
Kesepakatan serupa juga dijalin dengan Chinggis Khan Wealth Fund yang mengelola perusahaan tambang milik negara, serta Mandal Financial Group yang menguasai sekitar 90 persen pasar manajemen aset Mongolia.
Alasan strategisnya jelas: pertambangan adalah pekerjaan padat modal dan fisik yang berat. Infrastruktur kesehatan di provinsi terpencil seperti Omnogovi sering kali tidak memenuhi standar korporat kelas atas.
Dengan mengemas layanan medis kelas atas di Seoul bersama wisata regional untuk pekerja dan keluarga, penyedia layanan kesehatan Korea menawarkan tunjangan korporat yang menarik.
