Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menegaskan bahwa militer AS memiliki aset yang cukup untuk mempertahankan blokade laut terhadap Iran tanpa batas waktu.
Pernyataan itu disampaikan Hegseth di Panama City, Kamis (13/8/2026), setelah meninjau awak kapal perusak USS Gridley yang sebelumnya bertugas di Timur Tengah.
>>> PLN Siagakan 64 Personel dan Pasokan Berlapis untuk Sidang Tahunan MPR RI
"Angkatan Laut AS dapat mempertahankan blokade seperti itu tanpa batas waktu karena kami akan memutar kapal masuk dan keluar, seperti yang telah kami lakukan, dan kami akan terus melakukannya," kata Hegseth kepada wartawan.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Hegseth menyarankan Presiden Donald Trump bahwa militer AS dapat terus memberikan tekanan ekonomi pada Iran selama yang diperlukan.
Hal ini terjadi di tengah negosiasi yang sejauh ini gagal untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada Februari lalu.
Kendali atas Selat Hormuz
Pada Rabu (12/8/2026), Trump menyatakan bahwa AS mengendalikan Selat Hormuz. "AS memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz.
SAYA PIKIR KAMI AKAN MEMPERTAHANKANNYA!
Blokade Laut kami disebut oleh semua orang sebagai 'DINDING BAJA', dan tidak ada yang bisa dilakukan Iran untuk mengatasinya," tulisnya di platform Truth Social.
Setelah perang dimulai dengan serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari, Teheran secara efektif menutup selat yang sebelumnya dilalui seperlima minyak dunia dan gas alam cair.
AS kemudian memberlakukan blokade laut terhadap pelayaran dan pelabuhan Iran, sambil menyatakan akan melindungi kebebasan navigasi bagi kapal yang menuju dan dari pelabuhan non-Iran.
>>> Operasi Gabungan di Tanah Abang Kembali Sita Ribuan Tramadol dan Hexymer
Washington telah mengerahkan puluhan ribu tentara ke Timur Tengah sejak perang dimulai, termasuk lebih dari 20 kapal perang.

