unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Masoud Pezeshkian Pulang ke Teheran, Penerbangan Iran Terbatas
News

Masoud Pezeshkian Pulang ke Teheran, Penerbangan Iran Terbatas

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menghadiri Sidang Majelis Umum PBB
Masoud Pezeshkian Pulang ke Teheran, Penerbangan Iran Terbatas
A A Ukuran Teks16px

Presiden Iran Masoud Pezeshkian bertolak kembali ke Teheran dari New York pada Sabtu (26/9/2026) usai menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kepulangan delegasi Iran itu berlangsung di tengah pemberlakuan sanksi penerbangan internasional oleh Amerika Serikat.

Sanksi AS melalui kebijakan Operasi Pengucilan Ekonomi melarang puluhan maskapai penerbangan Iran. Kebijakan itu juga menargetkan pasokan bahan bakar serta layanan penanganan darat di berbagai bandara internasional.

Langkah tersebut berdampak pada pembatalan sejumlah penerbangan komersial dari dan menuju Iran.

Antisipasi Pembatasan Penerbangan

Menteri Keuangan AS Scott Bessent sempat mempertanyakan akses kepulangan delegasi Iran setelah kebijakan baru itu memangkas mayoritas penerbangan luar negeri negara tersebut.

"Saya tidak yakin bagaimana delegasi Iran di PBB akan pulang," kata Bessent.

Pemerintah AS mengeklaim pengetatan sanksi penerbangan melumpuhkan lebih dari 80 hingga 90 persen penerbangan internasional Iran.

"Kami menekan pihak Iran dengan cara yang belum pernah mereka alami sebelumnya," tutur Bessent.

Untuk mengantisipasi pembatasan tersebut, Pezeshkian menggunakan pesawat Airbus A340 milik maskapai Ashianeh saat berangkat ke New York pada Selasa (22/9/2026).

Maskapai non-komersial ini melakukan transit pengisian bahan bakar di Algiers, Aljazair, sebelum melanjutkan penerbangan ke AS.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan dalam konferensi pers di New York bahwa serangan militer AS dan Israel telah menewaskan ribuan orang serta merusak berbagai fasilitas sipil di Iran.

"Kejahatan terang-terangan dan melanggar hukum internasional," tegas Araghchi mengenai pembunuhan mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei beserta pejabat senior lainnya.

Eskalasi konflik bersenjata ini meningkat sejak serangan gabungan pada 28 Februari 2026, yang disusul pengetatan kendali Iran di Selat Hormuz serta ketidakpastian perundingan penghentian perang.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru