unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Harga Minyak Dunia Turun Saat Perundingan Iran-Qatar Masuk Hari Ketiga
News

Harga Minyak Dunia Turun Saat Perundingan Iran-Qatar Masuk Hari Ketiga

Ilustrasi harga minyak dunia melemah saat perundingan Iran dan Qatar
Harga Minyak Dunia Turun Saat Perundingan Iran-Qatar Masuk Hari Ketiga
A A Ukuran Teks16px

Harga minyak dunia melemah pada perdagangan awal Asia, Senin (2/11/2026), seiring perundingan pejabat Iran dan Qatar memasuki hari ketiga.

Perundingan tersebut bertujuan mengupayakan kesepakatan untuk mengakhiri perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.

Perkembangan diplomatik ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Minyak mentah Brent turun 1,59 dollar AS atau 1,40 persen menjadi 111,84 dollar AS per barrel pada pukul 07.11 WIB.

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS terkoreksi 1,56 dollar AS atau 1,50 persen menjadi 102,56 dollar AS per barrel.

Faktor Pendorong Pelemahan Harga

Analis Pasar Utama KCM Trade, Tim Waterer, menjelaskan bahwa pelemahan harga juga dipengaruhi koreksi teknikal setelah penguatan signifikan pada pekan sebelumnya.

Brent mengakhiri perdagangan Oktober pada posisi tertinggi dalam enam bulan akibat kekhawatiran konflik yang kembali meningkat setelah pemilihan sela AS.

Waterer menyatakan harapan terhadap kemajuan diplomatik dan tidak adanya eskalasi militer berarti selama akhir pekan untuk sementara mengurangi tekanan kenaikan harga.

Meski tekanan mereda, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan hubungan AS dan Iran.

Ia memperingatkan bahwa peningkatan retorika terkait Iran setelah pemilihan sela AS berpotensi membawa harga Brent menuju 120 dollar AS per barrel.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Minggu menyampaikan bahwa komunikasi diplomatik dengan mediator dari Qatar masih berjalan.

Teheran juga tetap mempersiapkan langkah pertahanan maupun diplomasi.

Perundingan berlangsung ketika sejumlah kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz menghadapi serangan.

Insiden tersebut meningkatkan biaya energi dan pengiriman global, sehingga jalur pelayaran strategis itu tetap menjadi perhatian pasar internasional.

Di kawasan lain, Arab Saudi meningkatkan ekspor minyak mentah pada Oktober dibandingkan September berdasarkan data dua dari tiga perusahaan pelacak kapal.

Peningkatan ekspor terjadi meskipun infrastruktur energi negara itu menjadi sasaran serangan kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, termasuk Rusia atau OPEC+, mempertahankan target produksi untuk Desember dalam pertemuan pada Minggu.

Keputusan tersebut sejalan dengan ekspektasi pasar bahwa kelompok produsen tidak akan mengubah kebijakan produksi hingga tahun depan.

Kebijakan produksi dipertahankan ketika ekspor minyak masih menghadapi gangguan akibat perang AS-Iran.

Perkembangan konflik dan kelanjutan perundingan diplomatik menjadi faktor yang terus diperhatikan dalam perdagangan energi global.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru