- Tidak buang air kecil sama sekali selama 8 jam atau lebih.
- Warna urine sangat gelap (seperti teh pekat).
- Mulut dan mata sangat kering (pada bayi dan anak-anak, ini ditandai dengan tidak bisa menangis atau tidak ada air mata).
- Jantung berdebar cepat namun nadinya lemah, disertai napas pendek-pendek.
- Pusing ekstrem, pandangan berkunang-kunang, hingga pingsan saat berdiri (hipotensi ortostatik).
- Kulit kehilangan elastisitas (keriput dan tidak kembali normal dengan cepat saat dicubit).
Mitos vs Fakta: Minum Saat Haus?
Mengutip panduan dari Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), banyak orang salah kaprah dengan menunggu rasa haus sebelum minum. Haus bukanlah indikator awal hidrasi, melainkan tanda bahwa tubuh sudah mengalami dehidrasi ringan.
Selain itu, meminum air putih saja ternyata tidak selalu cukup. Saat berkeringat, tubuh tidak hanya kehilangan air, tetapi juga elektrolit penting seperti natrium dan kalium. Jika hanya diganti dengan air putih, keseimbangan elektrolit bisa terganggu.
Sebagai alternatif, Anda bisa mengonsumsi oralit. Jika tidak ada, buatlah oralit alami di rumah dengan resep sederhana: campurkan 1 liter air matang, 6 sendok teh gula, dan setengah sendok teh garam.
7 Tips Jitu Mencegah Dehidrasi Saat Musim Kemarau
Agar tubuh tetap fit dan produktif meski cuaca sedang panas-panasnya, terapkan 7 langkah preventif berikut ini:
1. Jadwalkan Minum, Jangan Tunggu Haus Ubah pola pikir Anda. Minumlah secara proaktif. Targetkan minum 1-2 gelas air putih setiap jam, terutama jika Anda harus beraktivitas di bawah terik matahari.
2. Penuhi Kuota 2 Liter atau 8 Gelas Sehari Aturan klasik 8 gelas sehari (sekitar 2 liter) bukanlah mitos. Untuk orang dewasa yang aktif di cuaca panas, kebutuhan ini bisa bertambah. Bawalah botol minum (tumbler) ke mana pun Anda pergi sebagai pengingat visual.
3. "Makan" Air dari Buah dan Sayur Cairan tidak selalu harus diminum. Perbanyak konsumsi buah dan sayur yang kaya air. Semangka, mentimun, selada, tomat, dan jeruk adalah "gudang air" alami yang juga kaya akan vitamin dan mineral.
4. Waspadai "Pencuri Cairan" (Minuman Diuretik) Hindari atau kurangi konsumsi kopi, teh kental, soda, minuman berenergi, dan alkohol. Kafein dan alkohol bersifat diuretik, yang berarti memicu ginjal untuk memproduksi lebih banyak urine, sehingga cairan tubuh justru terkuras lebih cepat.
5. Jadikan Warna Urine sebagai Indikator Mandiri Anda tidak butuh alat medis untuk cek dehidrasi, cukup lihat warna urine Anda. Targetkan warna kuning muda jernih (seperti air lemon). Jika warnanya kuning tua atau kecokelatan, itu adalah kode keras bahwa Anda harus segera minum.
6. Adaptasi Pakaian dan Perlindungan Diri Hindari pakaian berbahan sintetis yang memerangkap panas. Pilihlah pakaian longgar, berbahan katun atau linen yang mudah menyerap keringat dan memungkinkan sirkulasi udara. Jangan lupa gunakan topi lebar, kacamata hitam, dan payung saat keluar ruangan.
7. Atur Ulang Jadwal Aktivitas Luar Ruangan Jika memungkinkan, hindari olahraga atau pekerjaan berat di luar ruangan pada pukul 10.00 hingga 15.00 WIB. Pindahkan jadwal Anda ke pagi hari (sebelum pukul 09.00) atau sore hari (setelah pukul 16.00).
