Seruan Kemanusiaan: Menanti Uluran Tangan untuk Bangkit Kembali
Pascakebakaran, ratusan kepala keluarga kini harus mengungsi di tempat-tempat penampungan sementara yang disediakan oleh pemerintah setempat. Mereka kehilangan segalanya dalam satu malam, dari tempat tidur hingga pakaian yang melekat di badan.
Menyikapi kondisi darurat ini, Tohirman Hayanto menyampaikan seruan mendesak kepada seluruh pihak. "Harapan kami, semua masyarakat Kampung Sasak Sade agar bisa dibantu dalam bentuk tenaga ataupun material. Kami sangat menunggu bantuan dari saudara-saudara semua agar kami bisa segera bangkit dan membangun kembali kampung halaman kami," pintanya.
Seruan ini juga diamini oleh para penggiat budaya dan pariwisata di NTB, yang menekankan bahwa Desa Adat Sade bukan sekadar kumpulan rumah tua, melainkan "museum hidup" yang menjaga autentisitas tradisi Sasak. Kehilangan desa ini berarti kehilangan salah satu pilar identitas budaya Lombok.
Langkah Ke Depan: Rekonstruksi dengan Prinsip Ketahanan Bencana
Ke depan, proses rehabilitasi dan rekonstruksi Desa Adat Sade harus menjadi prioritas bersama antara pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat. Rebuild tidak hanya sekadar membangun ulang rumah dengan material yang sama, tetapi juga perlu mempertimbangkan aspek mitigasi bencana.
Penerapan sistem proteksi kebakaran yang lebih modern, seperti instalasi hidran umum, jalur evakuasi yang lebih lebar, dan penggunaan material yang lebih tahan api namun tetap mempertahankan estetika arsitektur Sasak, menjadi pelajaran penting yang harus diimplementasikan.
Tragedi kebakaran di Desa Adat Sade ini menjadi pengingat keras bagi kita semua tentang betapa rapuhnya warisan budaya di hadapan bencana, dan betapa pentingnya solidaritas kemanusiaan untuk bangkit dari keterpurukan. Mari ulurkan tangan, dukung pemulihan Desa Sade, dan jaga agar denyut kehidupan Suku Sasak tetap berdetak di Bumi Gora.
