Nepal menyatakan tidak membutuhkan bantuan asing untuk operasi pencarian dan penyelamatan setelah banjir bandang dahsyat melanda sejumlah kota pada Rabu.
Kementerian luar negeri Nepal menegaskan hal ini meski beberapa negara menawarkan bantuan karena warga mereka hilang.
>>> Trump Lapor Dua Transaksi Saham Coupang pada Juni
Banjir bandang menerjang wilayah termasuk distrik Rasuwa dekat perbatasan China, meratakan kota-kota, merusak pembangkit listrik tenaga air, dan menewaskan hampir 500 orang.
Ratusan warga asing masih hilang, termasuk dari Korea Selatan.
Korea Selatan mengirim tim tanggap darurat ke Nepal dan berencana mengirim tim bantuan bencana.
Namun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Nepal, Lok Bahadur Chhetri, mengatakan pada Jumat bahwa Nepal mampu menangani operasi penyelamatan sendiri.
"Tawaran bantuan itu wajar. Badan keamanan kami sedang melakukan operasi pencarian dan penyelamatan.
Untuk saat ini kami tidak memerlukan bantuan tersebut," ujar Chhetri.
The Kathmandu Post melaporkan bahwa India, China, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Korea, Sri Lanka, dan Bangladesh telah meminta izin untuk mengirim tim pencarian dan penyelamatan.
Namun, Nepal belum berencana menerima tim asing.
Kementerian luar negeri Korea mengatakan Nepal mengindikasikan belum berencana menerima tim penyelamat asing. "Korea akan terus bernegosiasi dengan Nepal mengenai masalah ini," tambah kementerian tersebut.
Menteri luar negeri Korea mengumumkan Seoul telah menjanjikan bantuan kemanusiaan senilai 1 juta dolar AS melalui organisasi internasional.
>>> Bupati Tangerang Raih Penghargaan atas Program Beasiswa Kuliah Gratis
Sembilan warga Korea yang bekerja di pembangkit listrik tenaga air dilaporkan hilang dan 10 lainnya terjebak.
Sensitivitas Wilayah Tibet
Dinesh Bhattarai, mantan duta besar Nepal untuk PBB di Jenewa, mengatakan keengganan pemerintah menerima tim asing mungkin terkait lokasi distrik Rasuwa yang berbatasan dengan Tibet, China.