Laqad kāna lakum fī rasūlillāhi uswatun ḥasanatul limang kāna yarjullāha wal-yaumal-ākhira wa żakarallāha kaṡīrā.Artinya: "Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab: 21).
Empat Pilar Akhlak Rasulullah yang Relevan di Era Modern
Dalam mengemban misi kenabian, Rasulullah memiliki empat sifat wajib yang wajib kita tiru, yakni:
- Shidiq (Benar/Jujur): Nabi selalu berkata dan bertindak benar. Di era modern di mana hoaks dan kebohongan mudah menyebar, sifat shidiq adalah fondasi integritas seorang muslim.
- Amanah (Dapat Dipercaya): Rasulullah senantiasa menjalankan tugas kenabiannya dengan penuh tanggung jawab. Sifat ini sangat dibutuhkan dalam dunia profesional dan kepemimpinan saat ini.
- Tabligh (Menyampaikan): Beliau tidak pernah menyembunyikan satu pun ayat Allah. Sikap berani menyuarakan kebenaran dan menyampaikan ilmu adalah wujud dari tabligh.
- Fathonah (Cerdas): Para rasul memiliki kecerdasan intelektual dan emosional dalam memecahkan masalah umat. Fathonah mengajarkan kita untuk menjadi muslim yang cerdas, inovatif, dan solutif.
Rasulullah: Pemimpin Umat yang Lembut di Dalam Rumah
Salah satu aspek keteladanan Nabi yang sering kali terlupakan adalah akhlak beliau di dalam rumah tangga. Banyak yang mengira Nabi yang sibuk memimpin umat, mengatur strategi perang, dan mengurus negara pasti bersikap keras di rumah. Factanya justru sebaliknya.
Sayyidah Aisyah RA pernah ditanya tentang bagaimana sosok Rasulullah ketika berada di dalam rumah. Beliau menjawab bahwa Nabi adalah manusia yang paling lembut, paling mulia, dan banyak tersenyum.
Kāna aryanan-nāsi wa akraman-nāsi, wa kāna rajulam mir rijālikum illā annahū kāna ḍaḥḥākan bassāmā.Artinya: "Beliau adalah manusia yang paling lembut dan manusia yang paling mulia, beliau seorang dari kaum laki-laki kalian, hanya saja beliau humoris nan banyak senyumnya.” (HR Ahmad).