Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak pada operasional penerbangan di sejumlah wilayah.
Hingga Senin, 7 September 2026 pukul 09.00 WIB, sekitar 2.300 penerbangan dan 270.337 penumpang tercatat terdampak akibat pembatalan, penundaan, hingga pengalihan penerbangan.
Pakar gempa sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa pergerakan abu vulkanik sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer, terutama arah dan kecepatan angin pada berbagai ketinggian.
Partikel abu yang sangat halus memiliki kecepatan endap rendah sehingga dapat melayang dan terbawa angin hingga ratusan kilometer.
"Dalam hal ini, arah dan kecepatan dispersi abu sepenuhnya mengikuti profil angin vertikal," kata Daryono dalam keterangannya, Senin, 7 September 2026.
Kondisi tersebut membuat sebaran abu vulkanik berpotensi berubah dari waktu ke waktu.
Ketinggian kolom erupsi juga menentukan lapisan atmosfer yang dimasuki material vulkanik, sehingga turut memengaruhi wilayah yang terkena dampak, termasuk jalur penerbangan.
"Semakin tinggi kolom erupsi, semakin besar pengaruh angin regional terhadap pergerakan abu," ujarnya.
Daryono menjelaskan bahwa dampak terhadap penerbangan tidak hanya bergantung pada lokasi gunung api, tetapi juga posisi jalur abu pada ketinggian jelajah pesawat.
Perubahan arah angin dan ketinggian sebaran abu menjadi faktor yang terus dipantau untuk menentukan keamanan operasional penerbangan.
Berakhirnya hujan abu atau krisis erupsi tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan perkiraan tanggal.
Kondisi tersebut sangat bergantung pada aktivitas sistem magmatik Gunung Anak Krakatau.
"Durasi atau kepastian berakhirnya krisis abu vulkanik tidak dapat ditentukan berdasarkan estimasi kalender, tetapi bergantung pada kondisi sistem magmatik gunung api," ucapnya.
Aktivitas erupsi dapat terus berlangsung secara fluktuatif selama pasokan magma dan gas dari kedalaman bumi masih aktif.
Selama suplai magma belum berhenti dan tekanan dalam sistem magmatik belum mencapai keseimbangan baru, erupsi eksplosif yang menghasilkan abu masih dapat terjadi kembali.
