Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Tidak ada satu pun manusia yang hidup di dunia ini tanpa diuji. Ada yang diuji dengan himpitan ekonomi, kehilangan pekerjaan, masalah keluarga yang pelik, penyakit yang tak kunjung sembuh, hingga kegagalan yang berulang. Ujian-ujian ini terkadang membuat lutut kita gemetar dan hati merasa lemah. Ketika persoalan datang bertubi-tubi, setan membisikkan bahwa tidak ada lagi jalan keluar.
Namun, Islam mengajarkan kita untuk menolak keputusasaan. Kesulitan harus dihadapi dengan kombinasi kekuatan spiritual dan fisik: Doa, Ikhtiar, dan Tawakal.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'anul Karim:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh petunjuk." (QS. Al-Baqarah: 186)
Ayat ini adalah fondasi optimisme kita. Doa adalah bukti bahwa kita sadar akan keterbatasan kita. Namun, ingatlah bahwa doa tanpa ikhtiar adalah angan-angan.
Jika sedang sakit, berdoalah lalu berobatlah. Jika sedang miskin, berdoalah lalu bekerja dan belajarlah. Jika rumah tangga bermasalah, berdoalah lalu perbaiki komunikasi. Tawakal yang benar adalah berserah diri kepada Allah setelah kita mengikat unta kita, setelah kita berusaha semaksimal mungkin.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Jagalah optimisme. Jangan biarkan satu kegagalan mendefinisikan seluruh hidup Anda. Apa yang kita anggap buruk hari ini, bisa jadi adalah jalan menuju kebaikan yang tidak kita duga besok. Allah mengetahui masa depan, sedangkan kita hanya mengetahui masa kini.
Jangan pula iri melihat kebahagiaan orang lain di media sosial. Setiap manusia punya porsi ujian yang berbeda. Tugas kita hanyalah memperbaiki kualitas diri dan terus mengetuk pintu langit dengan doa.