Jagat politik dan literasi tanah air kembali digegerkan oleh sebuah kontroversi yang melibatkan nama Presiden Prabowo Subianto. Bukan terkait kebijakan strategis atau isu geopolitik, perhatian publik kini tertuju pada sebuah buku berjudul Islam Ala Prabowo.
Polemik yang awalnya dianggap sekadar perdebatan semantik mengenai pemilihan judul, kini berkembang menjadi isu serius terkait etika publikasi dan integritas intelektual. Kader PDI Perjuangan, Mohamad Guntur Romli, tampil ke publik membongkar apa yang ia sebut sebagai "kebohongan" yang terstruktur di balik terbitnya buku tersebut.
Dalam keterangannya pada Selasa, 8 September 2026, Guntur menilai buku ini bukan hanya gagal secara substansi, tetapi juga berpotensi menjadi bumerang bagi citra Presiden Prabowo di tengah masa jabatannya.
Misteri Frasa "Ala": Antara Gaya dan Doktrin
Sorotan pertama Guntur membedah anatomi judul buku tersebut. Menurutnya, penggunaan frasa "ala" dalam konteks pemikiran seorang tokoh bukanlah perkara sederhana. Dalam khazanah keilmuan Islam di Indonesia, "ala" merujuk pada mazhab, corak pemikiran, atau doktrin yang telah teruji dan memiliki pengikut.
"Islam ala siapa? Kebohongan di balik buku Islam ala Prabowo. Judul buku Islam ala Prabowo saja sudah cukup mengundang tanda tanya besar di kalangan netizen dan pengamat," ujar Guntur dalam rilis persnya.
Guntur menjelaskan, istilah "ala" sejatinya tidak bermasalah jika dilekatkan pada tokoh yang memang memiliki track record gagasan teologis yang mapan. Namun, ketika dilekatkan pada sosok yang lebih dikenal sebagai negarawan dan pemimpin militer seperti Prabowo, istilah tersebut terasa janggal dan dipaksakan.
"Islam ala Prabowo semestinya berarti Islam dengan gaya dan corak pemikiran yang memang digagas oleh Prabowo. Pertanyaannya, apakah ada gagasan teologis spesifik dari Presiden yang hendak dirangkum? Atau ini hanya kemasan kosong?" tegasnya.
