unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Wafatnya KH Ahmad Fudholi: Kronologi Kecelakaan Maut di Tol Tangerang-Merak hingga Prosesi Pemakaman yang Dibanjiri Ribuan Pelayat
News

Wafatnya KH Ahmad Fudholi: Kronologi Kecelakaan Maut di Tol Tangerang-Merak hingga Prosesi Pemakaman yang Dibanjiri Ribuan Pelayat

Wafatnya KH Ahmad Fudholi: Kronologi Kecelakaan Maut di Tol Tangerang-Merak hingga Prosesi Pemakaman yang Dibanjiri Ribuan Pelayat
Ahmad • Instagram
A A Ukuran Teks16px

Duka mendalam menyelimuti dunia dakwah dan masyarakat Banten pada Senin (7/9/2026). Penceramah kondang sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hijaiyyah, KH Ahmad Fudholi, menghembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan cedera serius akibat kecelakaan lalu lintas yang mengguncang ruas Tol Tangerang-Merak.

Kabar wafatnya sosok yang dikenal rendah hati dan vokal dalam menyebarkan nilai-nilai keislaman ini sontak memicu gelombang duka dari berbagai lapisan masyarakat. Ribuan pelayat tumpah ruah, bukan hanya untuk mengantar jenazah, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terakhir atas dedikasi beliau selama puluhan tahun mengabdi melalui mimbar dakwah dan pendidikan pesantren.

Berikut adalah ulasan mendalam mengenai kronologi kejadian, perjuangan medis, hingga prosesi pemakaman bersejarah yang penuh haru tersebut.

Detik-Detik Kecelakaan Maut di Ruas Tol Tangerang-Merak

Insiden naas ini bermula pada Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 03.00 WIB. Saat itu, KH Ahmad Fudholi bersama sopir pribadinya sedang dalam perjalanan pulang menuju Tangerang setelah menyelesaikan jadwal mengisi ceramah agama di wilayah Cikaduen, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Kelelahan setelah perjalanan jauh dan aktivitas dakwah yang padat diduga menjadi faktor yang memperburuk situasi. Berdasarkan data yang dihimpun, kendaraan yang ditumpangi sang kiai adalah sebuah mobil Mitsubishi Pajero berwarna putih dengan nomor polisi A 1199 ZZ.

Di KM 63+800 B, wilayah Kabupaten Serang, Banten, kendaraan tersebut mengalami kecelakaan tunggal yang cukup parah. Bagian depan mobil dilaporkan ringsek berat akibat benturan keras, yang langsung membuat kondisi KH Ahmad Fudholi dan sopirnya kritis di tempat kejadian.

Kanit Gakkum Satlantas Polres Serang, Ipda Sigit Prayogi, membenarkan adanya kecelakaan yang melibatkan kendaraan tokoh agama tersebut. "Iya, benar. Korbannya dua orang, yakni sopir dan penumpang. Kejadian ini masuk dalam wilayah hukum Polres Serang Kabupaten," ujar Sigit, sebagaimana dikutip dari laporan lapangan, Senin (7/9/2026).

Hingga artikel ini diturunkan, pihak kepolisian masih menunggu kondisi sopir yang bersangkutan membaik. Saat ini, sang sopir masih menjalani perawatan medis intensif, sehingga proses pemeriksaan keterangan sebagai bagian dari penyelidikan kronologi lengkap kecelakaan belum dapat dilakukan secara optimal.

Perjuangan di RSUD Tangerang dan Kepulangan Sang Penceramah

Pasca-kejadian, KH Ahmad Fudholi segera dievakuasi oleh tim medis dan petugas gabungan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Tangerang untuk mendapatkan penanganan darurat. Selama tiga hari, tim dokter berjuang keras menyelamatkan nyawa sang kiai, namun cedera yang diderita akibat benturan kecelakaan ternyata terlalu parah.

Pada Senin (7/9/2026), KH Ahmad Fudholi dinyatakan meninggal dunia di RSUD Tangerang. Kabar ini dengan cepat menyebar melalui grup-grup komunitas santri, jamaah pengajian, dan media sosial, memicu gelombang doa dan takziah digital yang tak putus-putusnya.

Bagi banyak orang, KH Ahmad Fudholi bukan sekadar penceramah. Beliau adalah sosok ayah, guru, dan pembimbing spiritual yang selalu menyapa jamaahnya dengan senyum dan nasihat yang menyejukkan hati. Kepergian beliau meninggalkan kekosongan besar, khususnya bagi para santri di Pondok Pesantren Al-Hijaiyyah yang kehilangan sosok pemimpin yang visioner dan penuh kasih sayang.

Prosesi Pemakaman Bersejarah: Enam Kloter Salat Jenazah dan Banjir Air Mata

Prosesi pemakaman KH Ahmad Fudholi dilaksanakan pada Senin (7/9/2026) sore, sekitar pukul 16.00 WIB. Lokasi pemakaman dipilih di area belakang Pondok Pesantren Al-Hijaiyyah, yang berlokasi di Kampung Rempak Kulon, Desa Sindang Sono, Kecamatan Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang, Banten. Tempat ini dipilih untuk memastikan sang kiai dapat terus "mengawasi" dan mendoakan santri-santri yang beliau cintai dari alam keabadian.

Suasana di sekitar pesantren sejak siang hari telah dipenuhi oleh lautan manusia. Jalanan menuju lokasi pemakaman lumpuh total akibat membludaknya jumlah pelayat yang datang dari berbagai daerah di Jabodetabek dan Banten. Mereka datang dengan membawa duka, bunga, dan harapan agar sang kiai husnul khotimah.

Menyentuh hati, proses salat jenazah harus dilakukan secara bergelombang hingga mencapai enam kloter. Hal ini merupakan bukti nyata betapa besarnya pengaruh dan kecintaan masyarakat terhadap KH Ahmad Fudholi. Setiap takbir yang dikumandangkan di depan area masjid pesantren diiringi isak tangis para santri dan jamaah yang kehilangan sosok panutan.

"Beliau adalah cahaya bagi kami. Setiap nasihatnya selalu membekas di hati. Hari ini, kami mengantar beliau dengan doa terbaik agar tempatnya di sisi Allah SWT," ujar salah satu santri senior yang hadir dengan mata sembab, mewakili perasaan ribuan pelayat lainnya.

Warisan Dakwah dan Pesan Keselamatan Berkendara

Kehilangan KH Ahmad Fudholi menjadi pengingat keras bagi kita semua tentang betapa rapuhnya nyawa manusia. Di balik duka yang mendalam, insiden ini juga menyisakan pesan penting terkait keselamatan berlalu lintas, khususnya bagi para pengemudi yang melakukan perjalanan jarak jauh pada dini hari.

Kepolisian setempat melalui Polresta Serang secara tidak langsung mengimbau kepada seluruh pengguna jalan untuk selalu memprioritaskan keselamatan. Faktor kelelahan (fatigue) saat berkendara di malam hari atau dini hari merupakan salah satu penyebab utama kecelakaan fatal di ruas tol. Istirahat yang cukup, pengecekan kondisi kendaraan sebelum perjalanan, serta tidak memaksakan diri untuk terus mengemudi saat tubuh sudah memberi sinyal kelelahan adalah langkah preventif yang wajib dilakukan.

KH Ahmad Fudholi mungkin telah tiada, namun warisan dakwah, ilmu, dan akhlak mulia yang beliau tanamkan di Pondok Pesantren Al-Hijaiyyah akan terus hidup dan diteruskan oleh para santri serta jamaah yang beliau bimbing.

Selamat jalan, KH Ahmad Fudholi. Semoga segala amal ibadah, dakwah, dan pengabdian Anda diterima di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan yang luar biasa.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru