Bandar Abbas, kota pelabuhan Iran di Selat Hormuz, kini menjadi saksi bisu memburuknya kondisi ekonomi. Dermaga yang dulu ramai dengan perahu, truk, dan pekerja kini tampak sepi.
Associated Press mengunjungi kota yang diguncang serangan udara AS yang menargetkan wilayah pesisir dalam sepekan terakhir.
Warga setempat mengungkapkan kemarahan dan kecemasan akan sulitnya bertahan hidup akibat blokade pelabuhan yang terus berlanjut.
Seorang sopir taksi, Hamid Hajizadeh, mengaku tidak memahami tindakan Amerika. "Mereka pahlawan di film, tapi di sini mereka membunuh orang di sekolah, pesta pernikahan, dan tempat lain.
Mereka membom jalan dan jembatan," ujarnya.
Di kota berpenduduk lebih dari 700.000 jiwa ini, warga memiliki pandangan lebih dekat daripada siapa pun tentang peristiwa di selat yang menyita perhatian dunia.
Mereka mengatakan lokasi mereka hanya membawa bahaya dan ketidaknyamanan selama setengah tahun terakhir.
Bisnis di Pelabuhan Anjlok
Mohammad Torabian bekerja di dermaga melayani penumpang. Sebelum perang, ia mengatakan sebanyak 50 truk pengangkut makanan dan daging bisa bongkar muat setiap hari.
Kini, dengan blokade AS yang bertujuan mencegah Iran mengekspor minyak, sebagian besar dermaga kosong.
"Bisnis sekarang sangat buruk," kata Torabian. Ia memperkirakan sekitar 500 orang menggantungkan hidup di sekitar dermaga, tetapi "tidak ada pekerjaan di sini."
Nasib Bandar Abbas memang lama terikat dengan laut dan Pelabuhan Shahid Rajaee di dekatnya, salah satu pelabuhan komersial terbesar Iran.
Pelabuhan itu memiliki kapasitas menangani 100 juta metrik ton kargo per tahun, menurut laporan IRNA pada Juli.
Pejabat Iran telah mengkritik keras blokade yang diberlakukan AS pada April lalu, kemudian diberlakukan lagi setelah negosiasi dengan Teheran untuk mengakhiri perang gagal.
