Hingga artikel ini diturunkan, pihak kepolisian masih menunggu kondisi sopir yang bersangkutan membaik. Saat ini, sang sopir masih menjalani perawatan medis intensif, sehingga proses pemeriksaan keterangan sebagai bagian dari penyelidikan kronologi lengkap kecelakaan belum dapat dilakukan secara optimal.
Perjuangan di RSUD Tangerang dan Kepulangan Sang Penceramah
Pasca-kejadian, KH Ahmad Fudholi segera dievakuasi oleh tim medis dan petugas gabungan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Tangerang untuk mendapatkan penanganan darurat. Selama tiga hari, tim dokter berjuang keras menyelamatkan nyawa sang kiai, namun cedera yang diderita akibat benturan kecelakaan ternyata terlalu parah.
Pada Senin (7/9/2026), KH Ahmad Fudholi dinyatakan meninggal dunia di RSUD Tangerang. Kabar ini dengan cepat menyebar melalui grup-grup komunitas santri, jamaah pengajian, dan media sosial, memicu gelombang doa dan takziah digital yang tak putus-putusnya.
Bagi banyak orang, KH Ahmad Fudholi bukan sekadar penceramah. Beliau adalah sosok ayah, guru, dan pembimbing spiritual yang selalu menyapa jamaahnya dengan senyum dan nasihat yang menyejukkan hati. Kepergian beliau meninggalkan kekosongan besar, khususnya bagi para santri di Pondok Pesantren Al-Hijaiyyah yang kehilangan sosok pemimpin yang visioner dan penuh kasih sayang.
Prosesi Pemakaman Bersejarah: Enam Kloter Salat Jenazah dan Banjir Air Mata
Prosesi pemakaman KH Ahmad Fudholi dilaksanakan pada Senin (7/9/2026) sore, sekitar pukul 16.00 WIB. Lokasi pemakaman dipilih di area belakang Pondok Pesantren Al-Hijaiyyah, yang berlokasi di Kampung Rempak Kulon, Desa Sindang Sono, Kecamatan Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang, Banten. Tempat ini dipilih untuk memastikan sang kiai dapat terus "mengawasi" dan mendoakan santri-santri yang beliau cintai dari alam keabadian.
Suasana di sekitar pesantren sejak siang hari telah dipenuhi oleh lautan manusia. Jalanan menuju lokasi pemakaman lumpuh total akibat membludaknya jumlah pelayat yang datang dari berbagai daerah di Jabodetabek dan Banten. Mereka datang dengan membawa duka, bunga, dan harapan agar sang kiai husnul khotimah.