unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Musisi Korea Lawan Tren Konten Pendek dengan Film Panjang
Hiburan

Musisi Korea Lawan Tren Konten Pendek dengan Film Panjang

Ilustrasi musisi Korea dan film panjang untuk album
Musisi Korea Lawan Tren Konten Pendek dengan Film Panjang
A A Ukuran Teks16px

Sejumlah musisi Korea tengah melawan kebiasaan mendengarkan musik dalam potongan pendek dengan menghadirkan karya berdurasi panjang.

Langkah ini menjadi jawaban atas maraknya konsumsi musik yang hanya dikenal sebagai musik latar video pendek.

Penyanyi-penulis lagu Chang Kiha merilis album studio solo pertamanya, "Sansanjogak", pada Rabu.

Ia menyampaikan pengamatan itu dalam sesi tanya jawab setelah pemutaran film di CGV Wangsimni, Seoul timur, pada 26 Agustus.

Chang menyebut satu-satunya lagunya yang mencapai peringkat pertama di tangga lagu Melon adalah "Bam Yang Gang".

Menurutnya, banyak orang mengenal lirik "On the way out you said to me" dan "So sweet and sweet, so sweet and sweet".

Namun, masih banyak yang tidak mengetahui bagian "The table legs break", sebuah idiom Korea untuk pesta mewah.

Ia menilai musik makin dikonsumsi dalam potongan kecil, seperti video pendek, dan banyak lagu hanya dikenal sebagai musik latar.

Dalam kondisi itu, apakah album panjang masih bermakna? "Sansanjogak" menjadi jawaban Chang.

Sebelum album dirilis, ia menayangkan film pendek berdurasi 33 menit yang memuat seluruh lagu.

Ia ingin membuat album yang punya alasan untuk didengarkan dari awal sampai akhir.

Film itu berangkat dari premis berbeda dibanding video musik tradisional yang biasanya melengkapi musik secara visual.

Berangkat dari puisi yang ia tulis, Chang membuat film bisu bersama tim produksi video mogeosu.

Ia kemudian menyusun sembilan lagu untuk menyesuaikan dengan karya visual yang sudah jadi.

Karena musik mengikuti gambar, tempo berubah beberapa kali dalam satu lagu.

Hal itu berbeda dari skor film standar karena lagu-lagunya dibangun tetap kuat sebagai musik pop meski tanpa visual.

Dalam kata-katanya sendiri, ini adalah karya tempat gambar dan musik memiliki bobot setara.

Setia pada tujuannya membuat album panjang yang bermakna di era sekarang, "Sansanjogak" menunjukkan nilai sebenarnya saat film dan musik berjalan berkelanjutan dari awal hingga akhir.

Berpusat pada karakter "White Kiha" dan "Black Kiha", karya ini melewati rutinitas harian yang berulang, dipenuhi kecemasan, kehilangan, dan pembebasan.

Semua itu sampai ke penonton sebagai satu cerita yang utuh.

Lagu Panjang dan Album sebagai Perangkat Pemutar

Musisi Korea lain juga aktif berkolaborasi dengan seniman visual untuk mendorong pendengaran panjang.

Band Hyukoh baru-baru ini merilis singel "Godspeed!" dan "KoK" dengan video musik yang disutradarai sutradara independen Rapu dan Song Seo-yoon.

"KoK" khususnya merupakan lagu berdurasi 8 menit 26 detik.

Lagu itu menahan perhatian pendengar sepanjang durasinya dengan memadukan hari olahraga sekolah, tarian tradisional, dan citra surealis.

Rapper Kim Ximya, yang merilis album solo keduanya "Dogma" pada hari yang sama, juga merilis video berdurasi 26 menit yang menautkan lagu-lagu baru albumnya sebelum perilisan resmi.

Seniman multimedia sekaligus pembuat film Park Chan-kyong menyutradarai proyek visual itu.

Park memanfaatkan karya yang sudah ada, seperti "Zen Master Eyeball", untuk membangun narasi yang mengalir di seluruh video.

Berlatar lagu-lagu baru Kim yang kental filsafat Buddha, karya itu mempertanyakan keyakinan, dogmatisme, dan diri.

Kim membawa eksperimen ini ke format album fisik.

Alih-alih CD, ia merilis perangkat pemutar yang meniru "Buddha Machine", pemutar kecil yang mengulang suara untuk meditasi.

Untuk memberi pengalaman mirip meditasi, ia menghapus fungsi lewati dan memuat versi alternatif lagu yang berbeda dari rilis digital.

Album studio baru Kim Ximya, "Dogma", dirilis sebagai perangkat pemutar kecil dengan speaker bawaan dalam jumlah terbatas 4.500 kopi.

Format Berubah, Musik Tetap Inti

Yang dimiliki para artis ini bukan format tertentu, melainkan sikap terhadap musik itu sendiri.

Kritikus musik pop Kim Jakga mengatakan album juga semacam renungan sebelum era Beatles.

Menurutnya, cara musik disediakan dan dikonsumsi selalu berubah mengikuti teknologi dan lingkungan platform.

Yang penting adalah membiarkan musik menjadi pusat, bukan sekadar komponen seperti musik latar untuk Shorts atau materi tantangan TikTok.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru