Aktor senior Park Hae-il kembali ke layar lebar setelah empat tahun absen melalui film thriller sejarah terbaru sutradara Hur Jin-ho, The Assassin(s).
Dalam film ini, ia memerankan Jae-hwan, editor meja harian yang berprinsip dan menolak mundur saat menghadapi sensor negara serta tekanan pemerintah.
Film ini berlatar tahun 1974 dan mengangkat peristiwa nyata pembunuhan ibu negara Yuk Young-soo.
Alih-alih berfokus pada konspirasi politik, The Assassin(s) menelaah atmosfer kejam era itu melalui sudut pandang mereka yang mencari kebenaran.
Park tampil bersama Yoo Hae-jin yang berperan sebagai detektif Cheol-gu, serta Lee Min-ho sebagai reporter muda Young-il.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 23 September dan disebut sebagai kandidat kuat puncak box office lokal selama libur Chuseok.
Tantangan Baru di Era 1970-an
Meski telah hampir 30 tahun berakting, Park mengaku masuk ke periode 1970-an menghadirkan tantangan baru.
Ia menyebut setiap langkah terasa seperti melintasi jembatan batu dengan hati-hati.
Sutradara, pemain, dan kru terus bertanya apakah mereka sudah menangkap udara dan nada era itu secara akurat.
Park juga mengaku tidak secara aktif mencari peristiwa sejarah saat tumbuh dewasa.
Namun, ketika sutradara Hur mengatakan peristiwa penting dalam sejarah modern Korea itu belum pernah dibuat menjadi film fitur, rasa penasarannya muncul.
Ia pun mendekati proyek ini dengan pola pikir untuk mengeksplorasi dan memahami apa yang terjadi pada periode tersebut.
Integritas Jurnalistik dan Kebebasan Pers
Untuk memerankan jurnalis secara realistis, Park berfokus pada pola pikir fundamental profesi itu, bukan pada penggambaran stereotip reporter.
Tugas utamanya adalah tampil dan terasa alami sebagai jurnalis pada masa itu.
Ia dan sutradara Hur sepakat untuk sepenuhnya berfokus pada komitmen Jae-hwan terhadap integritas jurnalistik dan kebebasan berekspresi.
Salah satu adegan kunci menampilkan Jae-hwan membaca Declaration for the Practice of Free Press di ruang redaksi yang kacau.
Park mengaku sempat khawatir adegan itu terasa terlalu formal atau canggung bagi penonton.
Namun saat pengambilan gambar, ia merasakan momen imersi total yang langka, bahkan sempat tersandung sedikit pada satu dialog.
Ia menilai rasa alami itu justru tepat untuk momen tersebut.
Park juga memuji rekan mainnya, Lee Min-ho, yang menurutnya mengingatkan pada bintang legendaris era 1960-an dan 70-an, Shin Seong-il.
Ia memahami mengapa sutradara Hur memilih Lee, bukan hanya karena kehadiran visualnya, tetapi juga dedikasinya di lokasi syuting.
Lee bahkan hadir pada hari-hari ketika ia tidak memiliki adegan untuk mendukung tim.
Park juga berterima kasih kepada seniornya, Yoo Hae-jin, yang disiplinnya di lokasi syuting menginspirasinya membangun kebiasaan lebih sehat selama produksi.
Ia mencontoh kebiasaan Yoo yang berlari 5 kilometer setelah syuting dan mencoba berlari di dekat penginapannya.
Menurut Park, hal itu membantunya menjaga energi untuk film yang berjalan penuh dari awal hingga akhir.
Soal gaya aktingnya, Park mengatakan ia lebih suka penampilannya melebur secara alami ke dalam keseluruhan karya daripada menonjol dalam satu momen.
Ia percaya pendekatan itu menciptakan pengalaman sinematik yang lebih utuh.