Takwa inilah yang semestinya menjadi satu-satunya ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah SWT, bukan diukur dari harta yang ditumpuk, jabatan yang disandang, atau garis keturunan yang dibanggakan.
Jamaah Rahimakumullah,
Selain takwa, ada satu sikap yang tidak kalah penting untuk terus kita latih dan amalkan, yaitu syukur. Allah SWT berjanji dengan janji yang pasti dalam Al-Quran Surah Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya akan Aku tambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.'"
Ayat yang agung ini mengajarkan kepada kita bahwa syukur bukan sekadar mengucap Alhamdulillah di lisan. Syukur yang hakiki adalah menjaga nikmat tersebut agar tetap digunakan di jalan yang diridhai-Nya. Waktu yang kita miliki digunakan untuk ibadah dan pekerjaan yang halal. Kesehatan yang kita rasakan digunakan untuk menebar kebaikan. Rezeki yang mengalir tidak lupa disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 152: فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
"Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."
Ayat ini menjadi pengingat sederhana namun sangat mendalam, bahwa mengingat Allah (dzikir) dan bersyukur adalah dua sayap yang saling menguatkan. Keduanya adalah bekal utama yang perlu terus kita jaga sepanjang pekan, bukan hanya pada saat khutbah Jumat ini berlangsung.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
