unique visitors counter
⌂ Beranda News Grup Djarum dan Sosok Michael Hartono di Balik Gurita Bisnis Keluarga
News

Grup Djarum dan Sosok Michael Hartono di Balik Gurita Bisnis Keluarga

Michael Hartono, konglomerat di balik Grup Djarum
A A Ukuran Teks16px

Michael Bambang Hartono meninggal dunia di Singapura pada 19 Maret 2026 dalam usia 86 tahun. Forbes mencatat kekayaan pribadinya sekitar US$18,9 miliar pada Maret 2026.

Nama Michael tidak bisa dilepaskan dari perjalanan keluarga Hartono membangun kerajaan bisnis. Foto lamanya yang tengah menikmati makanan sederhana di sebuah warung pernah menarik perhatian warganet.

Dari Djarum hingga BCA

Kekayaan keluarga Hartono berawal dari bisnis rokok kretek Djarum yang dirintis sang ayah, Oei Wie Gwan.

Setelah sang ayah meninggal dunia pada 1963, Michael dan adiknya, Robert Budi Hartono, mengambil alih bisnis tersebut ketika usia mereka masih relatif muda.

Tantangan yang mereka hadapi tidak ringan. Pabrik Djarum pernah mengalami kebakaran besar, tetapi keduanya justru membangun kembali bisnis tersebut dan perlahan memperluas pasar.

Djarum kemudian berkembang menjadi salah satu produsen rokok kretek terbesar di Indonesia. Ekspansi juga diarahkan ke pasar internasional sejak dekade 1970-an.

Namun, bisnis keluarga Hartono tidak berhenti pada industri tembakau. Salah satu sumber kekayaan terbesar mereka berasal dari kepemilikan saham di Bank Central Asia (BCA).

Kepemilikan tersebut diperoleh setelah krisis ekonomi Asia 1997-1998 ketika Grup Salim kehilangan kendali atas bank tersebut. Keluarga Hartono juga memiliki portofolio di sektor properti dan elektronik.

Nama Polytron menjadi salah satu bisnis yang cukup dikenal masyarakat Indonesia. Sejumlah aset properti di Jakarta ikut memperkuat diversifikasi bisnis keluarga.

Di sisi lain, Michael memiliki sisi yang tidak selalu terlihat dari pemberitaan bisnis. Ia dikenal sebagai pemain bridge dan bersama timnya meraih medali perunggu pada Asian Games 2018.

📰 Update Terbaru