New Delhi dilanda kekacauan lalu lintas menjelang KTT BRICS yang akan berlangsung akhir pekan ini.
Ribuan polisi dan personel paramiliter dikerahkan, sementara barikade, pos pemeriksaan, dan pembatasan lalu lintas diberlakukan di berbagai ruas jalan utama.
Pemerintah kota juga menetapkan hari libur umum untuk mengurangi pergerakan kendaraan.
Kantor pemerintah, sekolah, dan banyak bisnis swasta tutup, sehingga arus lalu lintas berkurang dan aparat keamanan lebih leluasa mengendalikan situasi.
Langkah serupa pernah diterapkan pada 2023 saat New Delhi menjadi tuan rumah KTT G20.
Meski demikian, pembatasan ini tetap mengganggu kehidupan sehari-hari di ibu kota yang sudah lama dikenal macet parah.
Jutaan kendaraan bersaing memperebutkan ruang di jalan setiap hari. Bahkan perjalanan singkat bisa berubah menjadi perjalanan panjang yang melelahkan.
Pejabat setempat menyatakan pembatasan ini diperlukan demi kelancaran pertemuan multilateral besar.
Mereka mengimbau warga bekerja dari rumah bila memungkinkan, merencanakan perjalanan lebih awal, dan mengikuti arahan lalu lintas resmi.
Namun, jutaan warga Delhi tetap harus berangkat kerja.
Pekerja kantoran, pengemudi ojek daring, dan pekerja harian melaporkan kesulitan mencapai tempat kerja karena jalan ditutup, rute dialihkan, dan aturan lalu lintas berubah-ubah.
Tarif taksi di beberapa wilayah naik karena pengemudi harus menempuh rute lebih jauh dan terjebak kemacetan. Warga juga mengeluhkan kebingungan akibat pembatasan yang terus berubah.
Sejumlah orang mengunggah gambar jalan yang diblokade di media sosial dan meminta saran tentang cara bepergian. Neeraj Kumar, seorang pengemudi bajaj, mengatakan pembatasan ini paling memberatkan warga miskin.
"Jika perjalanan satu kilometer berubah menjadi delapan kilometer, apa yang harus kami lakukan?" tanyanya.
Kumar, yang telah mengemudi selama 35 tahun, menilai pemerintah harus memastikan keamanan delegasi asing tidak mengorbankan kepentingan warga.
"Pemerintah harus membuat pengaturan yang tepat untuk delegasi asing agar tidak ada pihak yang dirugikan, baik masyarakat maupun tamu," ujarnya.
Mohammed Eliyas, seorang pengemudi pengiriman muda, mengatakan pembatasan ini akan membuat banyak pekerja kehilangan penghasilan selama beberapa hari.
"Bahkan jika kami sampai di tempat kerja, kami akan terjebak macet. Kami tidak akan bisa bekerja," katanya.
Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian termasuk pemimpin yang diperkirakan hadir dalam KTT pada Sabtu dan Minggu.
BRICS kini beranggotakan 11 negara yang bersama-sama mewakili sekitar setengah populasi dunia serta porsi signifikan energi, sumber daya, dan output ekonomi global.
Kelompok ini berupaya memperbesar peran dalam tatanan global yang lama didominasi Amerika Serikat dan sekutu Baratnya.