Presiden China Xi Jinping dijadwalkan menghadiri KTT BRICS di India pada 12-13 September.
Kunjungan ini menjadi yang pertama bagi Xi ke India sejak Oktober 2019.
Langkah itu disebut sebagai kemajuan terbesar dalam upaya pencairan hubungan yang hati-hati setelah bertahun-tahun ketegangan.
Kunjungan Xi mengikuti lawatan Perdana Menteri Narendra Modi ke China pada Agustus 2025.
Kedua negara perlahan memperbaiki hubungan sejak bentrokan perbatasan pada 2020.
Penerbangan, sebagian visa, dan kontak tingkat tinggi mulai dilanjutkan.
Namun, saling curiga masih kuat karena sengketa perbatasan Himalaya, defisit perdagangan besar, dan persaingan strategis.
Lima Hal yang Perlu Diketahui
Pertama, perbatasan menjadi prioritas utama.
Hubungan kedua negara berubah setelah bentrokan di Ladakh pada Juni 2020 yang menewaskan 20 tentara India dan empat tentara China.
Pada Oktober 2024, Beijing dan Delhi menyepakati pengaturan patroli yang membuka jalan bagi kontak politik kembali.
Meski demikian, sengketa wilayah tetap belum terselesaikan dan kedua pihak masih menempatkan pasukan dalam jumlah besar di perbatasan sepanjang sekitar 3.500 kilometer di dataran tinggi Tibet.
Pradeep Taneja, pakar China-India dari University of Melbourne, mengatakan kedua negara mencari hasil awal dan substansial terkait isu perbatasan.
Ia menilai tidak mungkin ada penumpukan pasukan di perbatasan sambil tetap menjalin hubungan antarmasyarakat dan ekonomi.
Dalai Lama juga hidup dalam pengasingan di India sejak melarikan diri dari Lhasa setelah pasukan China menumpas pemberontakan pada 1959.
Beijing mengecam Dalai Lama sebagai pemberontak dan separatis.
Kedua, hubungan dagang tidak seimbang.
China kini menjadi mitra dagang terbesar India dengan nilai perdagangan barang bilateral mencapai 151 miliar dolar AS pada tahun fiskal 2025-26.