Namun, hubungan itu sangat condong ke Beijing.
India mengimpor 131 miliar dolar AS barang dari China, sementara ekspornya hanya 19 miliar dolar AS, meninggalkan defisit perdagangan rekor 112 miliar dolar AS.
Pemerintahan Modi mendorong manufaktur domestik dan berupaya mengurangi ketergantungan pada China untuk mesin, elektronik, bahan kimia, dan komponen industri.
Wu Xinbo, dekan Institute of International Studies di Fudan University Shanghai, mengatakan India membutuhkan teknologi China.
China juga ingin memperluas perdagangan meski India terus mengeluhkan ketidakseimbangan.
Ketiga, keduanya adalah mitra sekaligus rival.
Keduanya anggota BRICS dan Shanghai Cooperation Organisation (SCO).
Taneja berpendapat alasan utama Xi berkunjung adalah memperkuat BRICS sebagai institusi alternatif terhadap lembaga yang didominasi AS.
Namun, mereka juga bersaing.
Kemitraan keamanan India dengan Washington, termasuk partisipasi dalam aliansi Quad bersama Jepang dan Australia, dipandang waspada oleh Beijing.
Hubungan dekat China dengan Pakistan, rival utama India, juga menjadi perhatian New Delhi.
Ashok Malik dari The Asia Group menilai kunjungan Xi menunjukkan kedua negara menginginkan hubungan yang berfungsi, bahkan jika dipicu gejolak global akibat Amerika.
Keempat, langkah membangun kepercayaan.
Hubungan menghangat perlahan sejak 2024.
Langkah itu termasuk menghidupkan kembali perdagangan perbatasan, melonggarkan visa, dan mengizinkan warga India melanjutkan ziarah Hindu ke Gunung Kailash di Tibet.
Penerbangan langsung yang terhenti lebih dari lima tahun dilanjutkan pada Oktober 2025.
Harsh V. Pant dari Observer Research Foundation India mengatakan hubungan kini kembali ke jalur yang benar.
Namun, ia menilai itu lebih merupakan stabilisasi ketimbang perubahan dramatis.
Kelima, ujian, bukan terobosan.
Modi dan Xi terakhir mengadakan pembicaraan bilateral resmi di KTT SCO di Tianjin pada Agustus 2025.
Interaksi singkat mereka di KTT SCO di Bishkek bulan ini memberikan sinyal publik lain tentang pencairan.
Namun, analis tetap berhati-hati.
Pant mengatakan ketidakpercayaan antara India dan China sangat besar.
Menurutnya, tanpa perubahan nyata dalam perilaku China, sangat tidak mungkin banyak pihak di India akan menerima narasi India-China berteman.