Panel LTPO AMOLED yang digunakan juga tidak main-main. Dengan tingkat kecerahan puncak hingga 4.000 nits, layar ini tetap terbaca dengan jelas di bawah terik matahari siang. Dukungan refresh rate adaptif 1-120Hz memastikan animasi tetap mulus sembari menghemat konsumsi daya secara signifikan.
Ambisi Fotografi: Ketika Leica Bertemu Sensor 200MP
Xiaomi tampaknya muak jika ponsel lipat hanya dianggap sebagai "tablet mini yang bisa menelepon" dengan kamera seadanya. Mereka menanamkan sistem kamera yang biasanya hanya ditemukan pada slab phone flagship murni.
- Kamera Utama 200 MP: Menggunakan sensor Samsung ISOCELL HP5 (1/1.56 inci). Resolusi setinggi ini memungkinkan cropping ekstrem tanpa kehilangan detail, sangat berguna bagi fotografer jalanan atau wildlife.
- Kolaborasi Leica: Color science khas Leica tetap dipertahankan, memberikan karakter warna yang artistik, moody, dan natural, bukan sekadar tajam namun terasa mati.
- Periskop 50 MP: Zoom optik 3.5x dengan OIS memastikan foto jarak jauh tetap stabil dan jernih.
Catatan Kritis: Modul kamera yang besar ini menciptakan bump (tonjolan) yang cukup signifikan di bagian belakang. Saat diletakkan di meja kafe, ponsel akan "mengangguk" jika Anda mengetik di layar. Selain itu, tonjolan ini mungkin terasa mengganggu saat ponsel dimasukkan ke dalam saku celana jeans yang ketat.
Dapur Pacu: Debut Chipset XRing O3 Buatan Xiaomi
Ini adalah kejutan terbesar dari peluncuran kali ini. Xiaomi 18 Fold ditenagai oleh XRing O3, chipset buatan in-house Xiaomi dengan fabrikasi 3nm. Langkah ini sangat mirip dengan strategi yang dilakukan Apple dengan seri A-Bionic atau Google dengan Tensor.
Klaim Xiaomi sangat berani: peningkatan performa 60% dan efisiensi daya 25% dibanding generasi sebelumnya. Hal ini masuk akal mengingat chipset buatan sendiri memungkinkan optimasi software (HyperOS) yang jauh lebih presisi dengan hardware.