India menjadi tuan rumah KTT tahun ini, dihadiri Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, Pezeshkian, dan para pemimpin delapan anggota BRICS lainnya.
Kekhawatiran meningkat bahwa perang Iran yang dipicu serangan AS-Israel pada 28 Februari dapat meluas seiring eskalasi pertempuran antara Arab Saudi dan pemberontak Houthi Yaman.
Perang di Ukraina dan Timur Tengah, bersama meningkatnya ketegangan AS-China, juga menguji kemampuan blok menemukan titik temu di antara negara dengan kepentingan geopolitik bersaing.
Modi Tegaskan BRICS Bukan Penyeimbang Barat
Dalam pidatonya, Perdana Menteri India Narendra Modi berupaya meredakan kekhawatiran bahwa BRICS dimaksudkan untuk menandingi aliansi pimpinan Barat.
Modi mengatakan BRICS tidak menentang siapa pun dan menambahkan bahwa blok telah mencapai momen kedewasaan di mana Global South harus berkembang menjadi pembentuk aturan dalam tata kelola global.
Ia menilai sudah waktunya menerjemahkan persatuan dan konsensus di BRICS menjadi hasil konkret.
Modi juga mengusulkan jaringan pelaut BRICS untuk memperkuat keselamatan dan kesejahteraan pekerja maritim, terutama karena gangguan perdagangan maritim akibat perang di Iran meningkatkan risiko bagi pelaut.
Rusia dan China melihat BRICS sebagai cara mengurangi dominasi Barat, khususnya Amerika Serikat, sekaligus memperkuat kerja sama antar ekonomi berkembang.
Putin menyerukan perluasan Dewan Keamanan PBB untuk memberi representasi lebih besar bagi Asia, Afrika, dan Amerika Latin, karena akan meningkatkan efektivitas badan tersebut, menurut kantor berita negara Rusia Interfax.
Berbicara di KTT, Putin mengatakan pergeseran menuju dunia multipolar menghadapi perlawanan dari negara yang terbiasa berpikir dalam kategori kolonial.
Ia menuduh mereka menggunakan tarif, sanksi, dan kekuatan kasar untuk menahan pesaing yang bangkit.
