unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Kapal Feri Virgo Transport 8 Terbalik di Laut Jawa, 6 Tewas dan 129 Hilang
News

Kapal Feri Virgo Transport 8 Terbalik di Laut Jawa, 6 Tewas dan 129 Hilang

Ilustrasi kapal feri terbalik di laut dengan tim penyelamat
Kapal Feri Virgo Transport 8 Terbalik di Laut Jawa, 6 Tewas dan 129 Hilang
A A Ukuran Teks16px

BANJARMASIN — Tim penyelamat Indonesia melaporkan sedikitnya enam orang tewas dan 129 lainnya hilang setelah kapal feri Virgo Transport 8 terbalik di perairan antara Pulau Jawa dan Kalimantan pada Minggu.

Kapal yang membawa 213 penumpang dan 30 awak itu dilaporkan kehilangan kontak dengan perusahaan pelayarannya dini hari setelah bertolak dari Surabaya, Jawa Timur.

Badan SAR Nasional (Basarnas) dalam pembaruan terbarunya menyebutkan satu korban selamat tambahan ditemukan, sehingga total orang yang berhasil diselamatkan menjadi 108 orang.

Sebanyak 129 orang masih dinyatakan hilang dan pencarian terus dilakukan.

Kondisi Kapal dan Upaya Penyelamatan

Menteri Perhubungan Indonesia Dudy Purwagandhi mengatakan kapal tersebut terbalik namun belum tenggelam.

"Dari informasi yang kami terima, berdasarkan pengawasan helikopter... kapal terbalik tetapi belum tenggelam.

Hingga pukul 15.00, kapal belum tenggelam, tetapi dalam posisi terbalik," ujarnya dalam konferensi pers di Banjarmasin.

Kepala SAR setempat, I Putu Sudayana, sebelumnya mengatakan kepada AFP bahwa kapten kapal sempat melaporkan kepada pemiliknya sebelum kehilangan kontak bahwa kapal dalam kondisi miring.

Tim penyelamat harus berjuang melawan gelombang setinggi hingga 2,5 meter untuk mencapai feri tersebut.

"Sangat berisiko bagi kapal. Bahkan kapal Basarnas kami yang panjangnya 40 meter sangat berisiko," kata Sudayana kepada wartawan.

Dua helikopter dikerahkan dalam operasi pencarian, dan badan SAR nasional menyatakan terus mempertimbangkan kondisi cuaca serta pola gelombang di area operasi.

Posisi terakhir kapal terdeteksi di Laut Jawa, sekitar 150 kilometer dari tujuan.

Heri Purwanto, kepala Otoritas Pelabuhan Banjarmasin, mengatakan kapal yang juga mengangkut kendaraan itu kehilangan kontak pada pukul 02.00 dini hari Minggu.

"Kami merespons cepat laporan insiden tersebut...

Fokus utama dan prioritas tertinggi kami saat ini adalah keselamatan semua orang di kapal, dan kami mengerahkan operasi penyelamatan terkoordinasi," ujar Heri Purwanto.

Kapal penyelamat pertama yang membawa korban selamat tiba sebelum malam di dermaga Banjarmasin, kota di pantai selatan Pulau Kalimantan.

Beberapa korban selamat dibawa dengan tandu ke ambulans yang menunggu, sementara yang lain ditempatkan di kursi roda atau membutuhkan bantuan untuk berjalan.

Otoritas SAR mendirikan pusat komando di Pelabuhan Banjarmasin dengan paramedis dan ambulans siaga.

Puluhan kerabat dan teman penumpang memeriksa papan tulis tempat nama-nama orang yang selamat diperbarui.

Jenah, 26 tahun, datang ke pos komando untuk mencari informasi tentang kakak laki-lakinya.

"Saya sedih dan sangat terkejut.

Sampai sekarang, saya belum menerima informasi lebih lanjut," kata Jenah, yang seperti banyak orang Indonesia hanya memiliki satu nama.

"Dia bepergian sendiri. Saya berharap dia selamat.

Saya tidak bisa menghubunginya sejak tadi malam."

Kecelakaan laut merupakan kejadian rutin di Indonesia, negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau yang sangat bergantung pada transportasi kapal untuk mobilitas harian dan pariwisata.

Standar keselamatan yang longgar dan cuaca yang tidak dapat diprediksi menjadi penyebab utama bencana tersebut.

Pada Senin sebelumnya, sebuah speedboat yang membawa delapan orang, termasuk lima jurnalis dari kantor berita lokal dan internasional, hilang di dekat gunung berapi Anak Krakatau di Provinsi Banten.

Pencarian speedboat tersebut masih berlangsung.

Para jurnalis itu dikirim untuk meliput letusan gunung berapi yang melumpuhkan bandara utama Jakarta dan beberapa bandara lainnya.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru